“Gimana sih Lo Mil. Kan yang nikah Lo. Masa Lo enggak tau mau pakai konsep gimana. Lo enggak coba konfirmasi sama calon istri Lo?” tanya Caca kesal.

Jangan heran mengapa mereka tidak formal. Pasalnya, Lelaki yang dipanggil Mil itu adalah Syamil, sahabat Caca dari kecil plus tetangganya.

“Calon istri gue sibuk banget. Dia nurut apa kata gue. Mulai dari baju pernikahan, konsep akad dan resepsinya. Pokoknya semuanya diserahkan ke gue. Masalahnya, gue kaga paham sama begituan. Makanya gue ke sini minta tolong sama Lo. Pokoknya bajunya gue nurut apa kata Lo deh. Enggak perlu fitting lagi. Pas kan aja ukuran bajunya sama Lo, karena ukuran badannya sama kayak Lo,” jelas Syamil panjang lebar.

“Apa sih kerjaan calon istri Lo? Sampai-sampai nikahannya aja enggak peduli,” Cibir Caca. “Ya udah, entar gue kabari kalau udah jadi gaunnya. Jadi ini desainnya bebas dari gue gitu?” lanjut nya.

Baca Juga  Kau Segalanya, Ibuku

“Iya pokoknya sebagus mungkin dan secantik mungkin. Karena yang akan pakai itu, adalah perempuan yang paling cantik, bahkan bidadari surga aja kalah,” jawab Syamil tersenyum.

“Alah prett! Palingan juga cantikan juga gue,” ujar Caca memutar bola matanya malas.

“Dih, Narsis!”

***

Tanpa sadar, sekitar hampir tiga bulanan Caca mempersiapkan gaun calon istri Syamil, Semuanya telah selesai.

Kini, Caca nampak sedang rebahan di kasurnya. Caca menikmati alunan musik yang indah. Sesekali kepalanya mengangguk menikmati.

Ceklek!

“Assalamualaikum Ca,” salam Bunda dan Abah yang memasuki kamarnya.

Caca segera mematikan musik di ponsel nya. Kemudian duduk di kasurnya sambil menjawab salam. “Ada apa?” Lanjutnya.

“Kamu percaya sama jodoh?” tanya bunda, yang duduk di dekat Caca, yang memandang heran bundanya.

“Percaya. Emang kenapa?” tanyanya kembali dengan bingung.

“Nak, Semakin hari, umur Bunda dan Abah berkurang. Abah takut, Abah tidak bisa menjadi wali nikah kamu. Bunda juga takut, tidak bisa mendampingi kamu saat Menikah nanti,” jelas Abah dengan sendu.

Baca Juga  Duka Seorang Ibu, Tribute to Hafidzah (1)

“Jangan ngomong gitu dong.”

“Sayang, beberapa bulan kemarin. Ada seorang pemuda yang datang ke rumah bersama keluarganya saat kamu keluar kota. Masya Allah, niatnya sangat baik. Yaitu meminta kepada Abah dan Bunda agar diberi izin menjadikanmu kekasih halalnya,” ungkap Bunda sambil tersenyum.

“APA! kenapa bunda sama Abah enggak bilang? Terus gimana?” tanya Caca dengan syok.

“Ya awalnya bunda sama Abah mau bilang ke kamu. Eh ternyata, Bunda enggak sengaja baca diary kamu yang tertulis di dalamnya, kalau kamu mencintainya. Ya sudah, beberapa hari setelahnya, Bunda sama Abah menerima lamaran dia,” ujar Bunda dengan entengnya.

“APA?!!”

***

Tidak pernah disangka oleh ku. Ternyata, Lelaki yang melamarku adalah tetanggaku sendiri sekaligus sahabatku dari kecil. Benar, Syamil Abdullah.

Masih tidak percaya, Ternyata hari ini adalah acara pernikahanku dengannya. Semuanya telah diatur tanpa memberitahuku. Setelah diberitahukan tentang lamaran itu, 1 Minggunya adalah pernikahanku dengan Syamil.

Baca Juga  Ikhlas di Atas Luka

Aku tau sekarang, mengapa Syamil memintaku untuk membantunya membuat desain gaun pernikahan. Ternyata, gaun itu untuk dipakai oleh ku sendiri. Terlihat gaun putih itu cantik dan anggun ketika aku memakainya. Dengan paduan hijab putih dan mahkota di atasnya.

“Terbuktikan, bahwa perempuan yang memakai gaun ini sangat cantik. Lihatlah, bahkan saat ini pada bidadari surga cemburu kepadanya,” ujar Syamil tersenyum lembut ke arahku. Kemudian mendaratkan kecupan di keningku.

“Bunda, Abah!! Caca Salting!!” teriakku di dalam hati.

Ternyata, Allah punya cara unik dan istimewa untuk mempersatukan sepasang kekasih halal. Sungguh, perihal jodoh adalah sebuah rahasia terindah, yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Tamat

Khoiriah Apriza adalah siswi SMAN 1 Airgegas Kabupaten Bangka Selatan. Anak bungsu ini sejak SD sudah hobi menulis. Hingga kini ia telah menerbitkan beberapa buku antologi cerpen serta singel kumpulan cerpen Ayah, Aku Rindu.