oleh: Ustad Alanshori, MP.d

HIKMAH RAMADHAN, Alhamdulillah kita sudah memasuki tengah atau 10 malam kedua dari bulan Ramadhan ini yakni tepatnya pada malam ke-17 Ramadhan.

Berbagai upaya dan ikhtiar kita untuk memaksimalkan ibadah kita baik ibadah wajib maupun ibadah-ibadah yang sunnah.

Tujuan memaksimalkan ibadah tersebut tidak lain adalah untuk melatih diri agar menjadi orang yang senang beribadah dan cinta beribadah kepada Allah SWT.

Terlebih lagi di pagi harinya di siang harinya kita berpuasa menahan haus dan lapar dan menahan segala hal yang mengurangi pahala puasa. Dan di malam harinya kita isi dengan salat sunnah tarawih dengan tadarus serta berdzikir dan istighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala di waktu sahur.

Baca Juga  Cara Mengganti Batal Puasa saat Ramadhan

Jika ibadah tadi kita laksanakan dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah maka akan Allah ampuni dosa kita sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits yang berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Di pertengahan bulan Ramadhan ini ada satu momentum yang ditunggu-tunggu oleh orang mukmin seluruh dunia, momentum itu sering kita sebut dengan Nuzulul Quran.

Nuzulul Quran adalah diturunkannya Al-quran, dan memang Alquran diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada bulan Ramadan sebagaimana dikuatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berarti:

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 9): Keadilan Orang Tua, Antara Niat dan Persepsi Anak