Akan tiba saatnya dunia akan ditinggalkan, yang dibutuhkan adalah amal kebaikan yang dilakukan saat di dunia. Kita dianjurkan untuk bertakziyah dan ziarah kubur agar menjadi pengingat bahwa suatu saat seseorang merasakan hal yang serupa.

Kedua, kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Dunia memang melalalaikan, jika tidak disertai dengan pemahaman yang benar. Banyak sekali realita yang terjadi di masyarakat, tolak ukur kesuksesan hanya diukur dari banyaknya harta. Bukan banyaknya amal dan ilmu.

Mayoritas di tengah masyarakat berlomba-lomba memperbanyak harta, terkadang melewatkan waktu sholat, puasa. Dan sampai tak sempat lagi untuk menambah ilmu.

Dunia memang penting untuk keberlangsungan hidup, tetapi jangan sampai hal tersebut melupakan akhiratnya.

Baca Juga  3 Tingkatan Ikhlas menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Ketiga, mengonsumsi makanan haram. Allah berfirman, “wahai para Rasul, makanlah (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlan kebaikan. Sungguh Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al Mu’minun : 53).

Ada hubungan antara makanan  yang baik dan amal soleh yang dilakukan seseroang. Makanan halal dan toyyib lebih akan lebih memudahkan seserorang untuk beramal dan diterimanya do’a. Perhatikan sumber makan dan munim yang masuk ke dalam perut kita.

Pernah ada seseorang yang dalam perjalanan, dengan penampilan yang kusut, memohon kepada Allah, seraya mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ” Ya Rabb, Ya Rabb” tetapi makananya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia kenyang dari barang yang haram. Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.

Baca Juga  Tata Cara Salat Witir Lengkap dengan Bacaan Doa dan Niat

Imam Al Ghozali mengatakan hati sesorang hanya sebesar telur burung merpati. Ketika dia berbuat kemaksiatan maka akan ada bintik-bintik noda di hati tersebut.

Jika hal tersebut adalah dosa kecil, namun jika hal tersebut adalah dosa besar maka berpotensi mengotori seluruh permukaan tersebut. Sehingga kalau tidak dibersihkan dengan taubat, akan mengerak dan susah untuk dihilangkan.

Sebagaimana panci yang sudah hitam bagian belakangnya, sangat susah dihilangkan. Maka iringi maksiat dengan taubat.

Semoga perjalanan Ramadhan tahun ini, mampu memberikan pelajaran kepada kita semua untuk bisa memaknai hakikat tujuan hidup. Wallahu a’lam

Ustad Abdussalam Alghozali, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Quran Cahaya Bangka Selatan