Oleh: Jarir Idris

OPINI TIMELINES.ID, Umat Islam, pada saat ini tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dan sudah menjelang di hari-hari akhir di bulan Ramadhan ini.

Sehingga, tidak sedikit surau yang sudah mengalami kemajuan shaf barisan, yang pada awal Ramadhan, sholat tarawih jamaahnya bisa memenuhi halaman surau, sekarang sudah mulai maju mendekati imam. Hal ini tentunya tidak sesuatu yang asing lagi bagi kita.

Apakah ini sebuah kesalahan? jawabannya adalah tentu tidak. Karena memang kodratnya memang demikian. Dan anggaplah hal tersebut sebagai tradisi sehingga nantinya tidak menjadi dosa jariyah bagi kita semua.

Tradisi yang tidak menjerumus ke dalam kemaksiatan, karena sholat tarawih hukumnya adalah sunnah, dan boleh ditinggalkan apabila ada hal penting yang lebih mendesak. Karena agama Islam pada dasarnya adalah mudah dan tidak mempersulit bagi seluruh pemeluknya.

Baca Juga  YBU Ranggung Bukber dengan 100 Anak Yatim Piatu dan Kaum Dhuafa di Payung

Kebutuhan yang lebih mendesak antara lain adalah mulai bertambahnya tugas-tugas kantor, mendekati ujian sekolah, sampai pada pencairan tunjangan hari raya (THR) yang sudah menjadi kewajiban atasan kepada bawahannya. Hal ini tentu berbeda kondisi dengan awal bulan Ramadhan.

Karena pada awal bulan Ramadhan, hampir semua lembaga memberikan keringanan berupa hari libur untuk melaksanakan puasa di awal.

Entah itu libur dua sampai tiga hari, bahkan ada yang melonggarkan sampai tujuh hari. Maka dari itu, jika kita mengamati lewat surau/masjid suasana awal Ramadhan akan berbeda drastis dengan akhir Ramadhan.

Namun perlu diingat bahwa, kita juga dijanjikan Tuhan yang dibawa oleh Rasulnya diakhir Ramadhan oleh pahala yang begitu besar, yakni Lailatul Qodar.

Baca Juga  Meninggalkan Puasa Ramadhan, Adakah Ketentuan Khusus untuk Qodha?

Pengertian pendek dari Lailatul Qodar adalah lailun yang mempunyai arti malam dan Qodar yang berarti kemuliaan. Atau masyarakat sering menyebutnya malam seribu bulan.

Yang mempunyai makna, apabila kita melakukan suatu kebaikan pada malam tersebut, maka kebaikan tersebut pahalanya akan dilipat gandakan sampai seribu bulan atau kurang lebih delapan puluh tahunan. Sungguh beruntung, bagi orang-orang yang mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Jadi, apakah ketika kita meninggalkan sembahyang tarawih akan kehilangan kemuliaan malam Lailatul Qodar ? belum tentu.

Ibadah tidak hanya sebatas sholat saja, melainkan manifestasi dari sholat itu sendiri. Melakukan kebaikan untuk diri sendiri maupun orang lain yang bermanfaat, adalah ibadah.

Seperti halnya menjaga orangtua yang sedang sakit, masuk kerja pada shift malam, atau menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat.

Baca Juga  Keutamaan Membaca Al-Qur'an, Yuk Isi Hari dengan Mencari Pahala

Hal tersebut juga masuk dalam kategori ibadah atau melakukan kebaikan. Islam tidak membatasi ummatnya untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Sehingga nantinya tidak menjadi problematika yang berarti dalam kehidupan bermasyarakat.

Lailatul Qodar jika diartikan secara singkat yaitu malam kemuliaan atau yang terbiasa terlihat di lingkungan yaitu semua orang berlomba-lomba melakukan kebaikan pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan.

Di mana pada waktu itu banyak majelis-majelis diaktifkan, beri’tikaf di masjid, sampai pada acara pengajian dan perayaan yang digelar di sekitar lingkungan. Ini tentunya menunjukkan semangat dalam beribadah yang baik dan harus kita jaga.