Dengan adanya proses autofagi saat puasa, secara tidak langsung kesehatan mental Anda juga akan semakin terjaga.

3. Memperbaiki suasana hati

Menurut studi terbitan The Journal of Nutrition, Health, & Aging, puasa intermiten membantu memperbaiki kesehatan mental dengan cara mengontrol ketegangan, kemarahan, dan gangguan mood lainnya.

Pada penelitian yang dilakukan kepada 31 orang laki-laki ini, perbaikan mood mulai terlihat pada minggu keenam dan mencapai hasil terbaik pada minggu keduabelas.

Hubungan antara puasa dan kesehatan mental ini berasal dari asupan kalori yang terjaga selama intermittent fasting.

4. Menurunkan risiko depresi

Salah satu penyebab depresi adalah rendahnya produksi protein dalam otak yang disebut BDNF (brain-derived neurotrophic factor).

Baca Juga  Gak Mau Ucapan Lebaran Kamu Biasa Saja?, Ini Kumpulan Ide Ucapan Lebaran Antimainstream

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Annual Review Nutrition pernah membahas kaitan intermittent fasting dengan BDNF.

Pada studi terhadap tikus tersebut, puasa intermiten dengan ketentuan 16/8 (16 jam puasa, 8 jam jendela makan) memberikan hasil yang baik dalam meningkatkan BDNF.

Selain itu, produksi BDNF yang memadai selama puasa juga dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan, bipolar, dan gangguan makan.

5. Meningkatkan kinerja otak

Jadwal dan asupan makan yang terjaga selama puasa akan membuat otak bekerja dengan lebih baik. Karena asupan glukosa menurun, otak Anda akan mendapatkan sumber energi melalui keton yang diolah dari asam lemak.

Dengan adanya asupan keton pada otak, seseorang akan memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami gangguan saraf. Selain itu, keton juga berperan penting dalam melindungi sel-sel otak dari risiko peradangan.

Baca Juga  5 Cara Mengatur Financial yang Aman Dalam Pernikahan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, puasa intermiten juga dapat menjaga daya ingat dan kemampuan otak dalam mengambil keputusan. (***)