oleh: Jumanda Astary

OPINI, TIMELINES.ID — Di era revolusi industri 4.0 ini, banyak terjadi tindak kriminal di lingkungan masyarakat yang umumnya dilakukan oleh orang yang tidak terdidik.

Banyak sekali masalah yang muncul saat ini seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Padahal, tingkat pendidikan warga negara Indonesia sudah terbilang cukup tinggi.

Namun, anehnya hal-hal seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme tersebut dilakukan oleh orang-orang pintar yang bergelar sarjana dari berbagai lulusan universitas ternama.

Melanjutkan pendidikan memang suatu hal yang menjadi keharusan bila kita memiliki kemampuan, baik kemampuan dari segi materi maupun dari segi pengetahuan.

Dengan melanjutkan pendidikan kita dapat meningkatkan ilmu yang kita miliki.

Pendidikan dimulai dari taman kanak-kanak (TK), dilanjutkan menuju sekolah dasar (SD), kemudian berlanjut ke sekolah menengah pertama (SMP), setelah itu menuju ke sekolah menengah atas (SMA), dan terakhir ke perguruan tinggi dengan jenjang S1, S2, dan terakhir S3.

Baca Juga  Hadirkan Aktivis Lingkungan, Talkshow Pepelingasih Kritisi Soal Tambang di Babel

Begitulah proses pendidikan yang terjadi di seluruh dunia, baik di Indonesia maupun di negara lainnya.

Maka dari itu ketika ingin menuntaskan pendidikan dan memiliki kemampuan untuk menuntaskannya maka tuntaskanlah sampai akhir hingga perguruan tinggi.

Akan tetapi, menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi untuk mendapatkan gelar doktor atau bahkan professor ternyata belum cukup untuk mengubah tindakan seseorang. Sebagian sekolah hingga perguruan tinggi Indonesia memang berhasil membentuk orang-orang pintar.

Tetapi, tidak ada jaminan orang tersebut menjadi terdidik. Seperti yang kita ketahui bahwa pola pendidikan umum di Indonesia hanyalah mengajarkan bidang keilmuwan seperti pengetahuan dan teknologi saja.

Namun, saat ini pendidikan mengenai budi pekerti cenderung dilupakan sehingga banyak orang pintar yang menjadi tidak terdidik.

Baca Juga  Membangun Ekonomi Digital dengan Implementasi Berbasis 12 Elemen

Akibat hal tersebut orang pintar akan menjadi orang jahat, menindas kaum yang lemah.

Padahal semestinya mereka menjadi orang yang memberi pertolongan dan pemimpin yang baik untuk menciptakan manfaat bagi orang lain.