“Serta dampak berikutnya adalah dampak sosial yang mengakibatkan korban menarik diri dari pergaulan sosial atau bahkan dikucilkan atau dijauhi dalam lingkungannya,” jelas Dr. Fitri.

Menurutnya, ada beberapa faktor penyebab terjadinya inses. Kata Fitri, penyebab ini antara lain yaitu faktor pola pengasuhan anak dalam keluarga yang tidak tepat, misalnya bagaimana nilai-nilai membangun kepercayaan dan perlindungan diri anak ditanamkan dalam keluarga.

Selain itu, faktor rendahnya pendidikan baik orangtua dan anak yang membuat terbatasnya pengetahuan mengenai aspek konsekuensi hukum, pergaulan, pengasuhan, dan sebagainya.

“Dan faktor sosial terutama adanya nilai atau budaya yang kurang memberikan ruang privat atau pribadi bagi anak laki-laki atau perempuan sehingga khususnya kamar tidur antara anak-anak dan orangtua terkadang tidak dipisahkan,” imbuhnya.

Baca Juga  Rektor UBB Prof. Dr. ibrahim, M.Si Resmi Menyandang Gelar Guru Besar

Ia mengatakan faktor sosial ini juga berhubungan dengan faktor kondisi ekonomi karena ketidakmampuan orangtua menyediakan ruang pribadi bagi anggota keluarga yang menjadi pemicu terjadinya inses.

“Jika kasus inses ini memiliki kecendrungan semakin meningkat maka sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah memberikan perhatian khusus untuk menanggulanginya, karena kasus ini bisa membahayakan masa depan anak-anak nantinya,”jelasnya

Hal yang harus dilakukan menurut Fitri adalah mulai dari keluarga di mana orangtua harus memberikan pendidikan yang tepat terkait identitas dan perlidungan diri anak-anak.

“Kemudian orangtua memberikan ruang bagi anak-anak agar tumbuh berkembang dengan baik dan sehat, serta pemerintah memberikan jaminan kenyaman dan keamanan melalui sistem dan kebijakan ramah anak,” tutupnya.

Baca Juga  Begini Cara Pj Bupati Bangka Tangani Stunting di 10 Desa