Sore itu setelah ia sudah pulang, saya berbasa-basi tentang Kukang Bangka yang ada di sangkar itu, dari situ mulailah cerita tentang Kukang Bangka tersebut.

Kukang Bangka merupakan hewan yang memiliki  kelenjar bisa yang berada di ketiaknya dan dapat menjadi racun ketika bercampur dengan air liurnya.

Selain itu Kukang Bangka juga merupakan hewan yang dilindungi sehingga bila menangkap dan memeliharanya bisa mendapat sanksi hukum atau denda dalam bentuk uang.

Terlebih ada kepercayaan orang Bangka siapa yang menangkap dan memelihara Kukang Bangka tersebut akan bernasib sial.

Setelah cerita itu, tak lama ia setuju untuk menyerahkan Kukang Bangka itu ke tempat rehabilitasi.

Kembali saya hubungi PPS Alobi dan BKSDA, namun karena letak pengambilannya  jauh, maka mereka menyarankan  untuk melepasliarkanya secara mandiri di hutan yang masih ada di daerah kami.

Baca Juga  Guru dan Buku, Persahabatan yang Harus Dirawat dan Dipupuk

Maka malamnya kami melepaskan Kukang Bangka itu di hutan di daerah kami.

Catatan:

Kukang Bangka atau nama ilmiahnya Nycticebus bancanus merupakan hewan endemik Pulau Bangka yang aktif di malam hari [noktornal] dengan makanan utama adalah serangga, telur burung, biji-bijian dan mamalia kecil.

Saat ini Kukang Bangka termasuk hewan dengan status kritis [Critically Endangered] karena perburuan, menipisnya habitat alami akibat alih fungsi lahan, pertambangan dan perumahan.

Bahkan CITES [Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora], telah menjadikan seluruh genus Nycticebus termasuk Kukang Bangka berstatus Apendiks I, yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Kukang Bangka juga merupakan salah satu hewan yang dilindungi, di mana bagi orang yang mengambilnya secara paksa atau menjualnya akan mendapat hukuman penjara selama lima tahun dan denda sebesar 100 juta rupiah.

Baca Juga  Ketimpangan Metode Pembelajaran: Mengapa Pendidikan Agama Islam Sulit Menarik Minat Siswa?

Yo cintai alam dan lingkungan Bangka Belitung dengan menjaga habitat dan hewan yang ada di dalamnya.

Agustian DenyArdiansyah, Penulis yang tinggal di Bangka Selatan