Kantongi Sertifikat Grade A, SHB Dinyatakan sebagai Hatchery Terbesar dan Termodern di Indonesia
Pamuji mengatakan SHB merupakan Hatchery termodern dan terbesar di Indonesia dengan memiliki standar yang baik.
Sehingga dirinya memberikan tantangan kepada pihak SHB untuk memenuhi kebutuhan suplai bibit udang vaname di seluruh Indonesia dengan kualitas R1 sehingga akan dilirik pasar yang baik.
“Jadi saya sekali lagi memberikan apresiasi kepada SHB dan juga pemerintah kabupaten Bangka dan Bangka Belitung karena ini Hatchery terbesar termegah dan termodern dan berstandart yang baik. Bahkan instalasi karantinanya (IKI) nya ini sangat luar biasa,” ungkapnya.

Pamuji menyebutkan dirinya baru mendapatkan perusahaan yang sangat konsen dari hulu ke hilir dan juga mulai dari indukannya, pakannya sampai benihnya sampai pasarnya.
Memang pasar ini, ujarnya, berpotensi sangat luar biasa karena di beberapa petambak/Hatchery Budi daya bibit atau benihnya masih import.
“Makanya tantangan saya kepada Pak Amen dan ibu Felicia bagaimana perkembangan nantinya kalau sudah bisa membuat jauh lebih baik lagi. Karena induk masih impor kalau kita ini bisa dihasilkan R1 di Indonesia maka saya kira kualitasnya lebih baik dan pasar OK,” imbuhnya.
Pamuji menambahkan banyak sekali petambak dari seluruh Indonesia, dengan kualitas dari bio scurity ketahanan pangannya bebas penyakit karena sudah diteliti.
“Ada 7 virus 2 bakteri dan 1 patogen dan ini sangat sangat bebas. Jadi keamanan pangannya dapat terjaga dari sisi bebas penyakitnya bisa terkendali. Lebih kuat lebih bagus. Sehingga ketika disuplay ke seluruh Indonesia bisa bebas penyakit karena dari hulunya sudah ditangani dengan sangat baik,” ujarnya kagum.
Belajar dari Equador, Hero Tio Berinovasi Pembibitan Benur di Bangka
Melirik usaha budidaya udang yang sangat menjanjikan, Hero Tio berinovasi membangun hatchery pembibitan benur udang vaname dengan brand 339 yang dikelola CV Sumber Hatchery Bangka di bawah pimpinan Agnes Felicia.
Belajar dari negara Equador yang berhasil membudidayakan udang jenis vaname, pria yang akrab disapa Amen dibimbing BKIPM Babel berhasil meraih sertifikat Grade A BKIPM Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Berdiri di lahan seluas 2 hektar, dirinya akan melanjutkan pengembangan Nursery pot seluas 2 hektar di Dusun Tuing, Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Saya belajar dari Equador. Kenapa mereka berhasil mereka belajar dari 2 step dan 3 step. 2 step dari PL ini di nursery pot baru ke kolam. Hingga usia 7 hari baru dilempar ke depan dibesarkan sampe PL 30 baru kirim ke tambak. Itulah kenapa Equador bisa berhasil,” ujar Amen Rabu (5/7/2023).
Ke depan, dirinya menargetkan dapat mencukupi kebutuhan tambak di wilayah Bangka Belitung yang prioritas dengan target 2.7 miliyar ekor bibit udang vaname per tahun.
Berbeda dengan Provinsi Lampung yang selama ini menjadi daerah yang menyuplai bibit udang vaname dengan ukuran OC 6 hingga 9. Di Sumber Hatchery Bangka akan membibitkan udang dengan ukuran 15 OC.
“Hari ini kita melepas 600 bibit indukan import. Saat ini masih dilanjutkan ke tahap naturasi. Didiamkan dulu nanti pada masa bertelur, benih benihnya akan disebar ke beberapa 15 kolam. Kita prioritaskan target 2,7 miliyar ekor untuk suplay di Bangka Belitung dulu. Dijual per ekor tapi untuk saat ini kita belum menentukan harga karena belum produksi,” ujarnya.
Selama era Covid 19 yang melanda negara negara di belahan dunia, Amen menilai usaha tambak udang budidaya inilah yang mampu menopang perekonomian.
Namun banyaknya penyakit dan hama yang melanda beberapa tambak udang yang harus gulung tukar di wilayah Babel.
Amen berniat kembali menghidupkan sektor perikanan jenis budidaya udang vaname di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Untuk Babel. Kita prioritaskan untuk Babel dulu. Harapan saya dengan ada budidaya benur di Babel bisa menghidupkan kembali sektor tambak udang. Pada waktu covid yang saya lihat tambak udang ini sangat menjanjikan dengan perhitungan perhitungan yang 2 tahun bisa BEP tidak ada usaha lain selain tambak udang. Tapi dengan berjalannya waktu banyak penyakit dan yang lainnya semua buyar,” jelasnya.
Agnes Felicia, Direktur CV Sumber Hatchery Bangka berharap perusahaan yang ia kelola dapat terus meningkat dan membantu meningkatkan perekonomian Babel sesuai dengan brand 339 yang dalam bahasa Mandarin berarti naik naik ke tingkat yang tinggi.
“339 ini diambil dari filosofi Bahasa Mandarin artinya naik naik tinggi. Semoga usaha kita bisa naik naik terus dan dapat meningkatkan perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” tutup Agnes Felicia. (Adv)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.