Rebo Kasan
Tokoh agama memimpin kegiatan tersebut dibantu oleh jamaah pengajian yang dipusatkan di masjid An-nur.
Pada hari Rabu terakhir bulan Safar, rangkaian kegiatan diisi dengan menarik ketupat lepas diakhiri doa tolak bala. Dalam ketupat tersebut berisi beras.
Tulisan beberapa ayat Al Qur’an ditulis dikertas kemudian dihapus dengan air dalam wadah piring yang dikenal dengan nama air wafaq.
Air wafaq tersebut dibagikan kepada para jamaah untuk diminum. Sementara itu jamaah yang lain nganggung ke masjid.
Hari Rabu terakhir bulan Safar dipercayai diturunkannya bala yang besar.
Oleh karena itu warga menghindari bepergian jauh dari rumah sebelum waktu zuhur.
Hari Rabu terakhir bulan Safar itu, warga nganggung sedulang cerak dan sedulang ketan ke masjid.
Sedulang cerak merupakan simbol dulang yang berisi makanan utama nasi atau ketupat dan lepat lengkap dengan lauk pauknya.
Sementara itu sedulang ketan adalah simbol dulang yang berisi aneka macam kue dan penganan ringan.
Setelah terjadinya perbedaan pendapat diantara pengurus masjid, maka sebagian tokoh agama hijrah ke desa sekitar atau berdomisili di kebun. Sepeninggalan tokoh agama, tradisi Rebo Kasan tetap dilakukan oleh masyarakat lain.
Kegiatan ini terakhir dilaksanakan sekitar tahun 1980-an.[2]
Penulis tinggal di Bangka Tengah
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Rabu_wekasan diakses pada 10 Juni 2021 pukul 13.45
[2] Wawancara dengan Mang Muslim (anak atok Ali), asal Sungkap tinggal di Jelutung pada 20 September 2021 pukul 19.30 WIB.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.