Pengabdian Seorang Guru yang Menantang Ombak hanya untuk Mengajar
Yang setelahnya dilanjutkan dengan menggunakan kapal “lidah api” atau speed boat untuk menuju pulau tempat sekolah itu berada.
Perjalanan di atas laut dan menantang ombak itu dilakukan 10 – 20 menit tergantung pada cuaca, medan ombak dan ketenangan sang laut.
Bahkan ketika laut surut, kadangkala kapal “lidah api” atau speed boat yang ditumpanginya harus didorong dari titik terjauh surut untuk mencapai pelabuhan.
Ia pernah bertutur, titik terjauh yang pernah dialami adalah jarak 1 km untuk mendorong kapal “lidah api” atau speed boat tersebut.

Perjuangan yang syarat dengan pengabdian bila dibandingkan dengan gaji, fasilitas atau jam ketika mengajar di sekolah yang hanya sampai jam 14.00 WIB.
Namun ia selalu tak pernah patah semangat apalagi mengeluh, yang saya lihat hanya senyum rekah bahagia setiap sampai di sekolah dan seolah penat selama perjalanan yang beliau lalui tak pernah dilalui.
Bahkan ketika telah sampai di pelabuhan, Dedy harus kembali menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit untuk sampai di sekolah tempatnya mengabdi, namun ia selalu melakukanya dan kembali melakukanya.
Dedy bahkan sangat jarang absen untuk masuk ke sekolah, kecuali jika sakit atau ada keluarga yang sakit atau ketika akan mengantar anaknya baru masuk sekolah.
Selain hal-hal itu, tak ada alasan untuk tidak berangkat ke sekolah, bahkan saya sempat membersamainya ketika hujan sangat deras hanya untuk sampai ke sekolah tempatnya mengabdi.
Sungguh ia adalah panutan dalam pengabdian, dedikasi dan cinta terhadap keluarga.
Saya pernah bertanya kenapa dan apa yang melatarbelakangi sehingga mampu untuk melakukan semua hal itu menjadi seperti sangat ringan.
Belia menjawab “keluarga dan pengabdian terhadap pekerjaan yang saya pilih serta untuk siswa-siswi saya yang menunggu saya di kelas”.
Saya hanya termenung dan mengatakan, “luar biasa, luar biasa, luar biasa”.
Bangka Selatan, 3 Agustus 2023
Merdeka!

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.