Beberapa bulan sebelum acara puncak, warga mulai bergotong royong.

Dana yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Mereka mesti menyiapkan aneka sajian, juga membuat replica Thai Tse Ja yang tiap tahun terus bertambah tinggi.

Mereka pun menyiapkan replika manusia berkepala sapid an kerbau, Dewa Kwan Kong, serta lainnya tergantung kelenteng setempat.

Biasanya replika Thai Tse Ja terbungkus dengan kain atau kertas lima warna, biru, hijau, merah, kuning dan jingga sedangkan kerangkanya terbuat dari bambu.

Di pundak Thai Tse Ja dipasang beberapa payung dan bendera simbol perlindungan. Di setiap sisi bendera tertulis huruf ‘Lin’ yang berarti manjur[1].

Warga yang datang tidak hanya dari etnis Tionghoa saja tetapi warga etnis lain banyak yang datang ke kelenteng untuk menyaksikan ritual ini sembari menunggu ritual puncak, yakni ritual Chiong Si Ku (perebutan).

Baca Juga  Umat Tionghoa Dusun Air Junguk Gelar Ritual Sembahyang Rebut

Menjelang tengah malam, jamuan-jamuan yang dihidangkan sudah dirasa cukup dinikmati oleh para arwah, sehingga prosesi ritual dilanjutkan dengan upacara rebutan sesaji yang berada di atas altar persembahan[2].

[1] Rika Theo dan Fennie Lie, Kisah, Kultur dan Tradisi Tionghoa Bangka, PT. Kompas Media Nusantara, 2014 hal. 125-126

[2] Wahar Saxsono dan Gustari, Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda Di Kabupaten Bangka dalam Kapita Selekta Budaya Bangka, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka, 2016, hal. 293.

Penulis tinggal di Bangka Tengah.