Book Not Bomb: Memberi Ruang Literasi Tanpa Syarat
Book Not Bomb pertama kali melahirkan perpustakaan mini di warung kopi yang berada di Yogyakarta.
Tidak banyak buku yang dititipkan, namun setidaknya cukup untuk memberikan bahan bacaan bagi beberapa orang pengunjung di sana.
Pelan tapi pasti, Book Not Bomb kembali membuka di tempat yang berbeda, yakni di warung bakso di pinggiran kota Yogyakarta.
Di sana banyak petani, masyarakat, dan anak-anak yang berkunjung untuk sekadar makan, atau melihat-lihat koleksi buku.
Komunitas ini perlahan menunjukkan eksistensinya di luar kota Yogyakarta.
Saat itu Jawa tengah, Sulawesi, dan Bangka Belitung bergabung untuk menghidupkan komunitas ini.
Tempat yang dipilih pun sama, yakni rumah makan, warung kopi, dan angkringan.
Dengan segala usaha yang dilakukan, apakah gerakan ini memiliki maksud dan tujuan tertentu?
Sebenarnya komunitas ini tidak mengharapkan apapun dari hal yang ia lakukan.
Karena sejak awal komunitas ini didirikan, misi yang dibawa oleh anggota sama, yakni membagikan kebahagiaan bagi mereka yang tidak mampu membeli buku.
Buku-buku yang ditampilkan merupakan buku-buku yang best seller dan cukup beragam variannya. Dari buku anak-anak hingga filsafat juga tersedia.
Ketika saya tanya ke salah satu pendiri komunitas, yakni mas Riskiyanto tentang apa harapan dari membuat perpustakaan mini ini?
Ia menjawab dengan sederhana, “saya tidak berharap banyak masyarakat mau membaca, atau mau membuka bab per bab dari buku tersebut. Namun yang pasti, mereka (masyarakat) hanya sekadar melihat judul dan memegang buku yang kami tampilkan, itu merupakan kebahagiaan yang tak terukur bagi kami.”
Saya percaya pada langkah-langkah kecil ini yang nantinya akan semakin membesar dan meluas. Bukankah manusia juga dapat bertumbuh besar dari hal yang sangat kecil awalnya?
Penulis adalah pengajar di SMAN 3 Toboali, Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.