Legenda Benteng Toboali
Di Pangkal Toboali, sudah ada beberapa Lanun yang menyerahkan diri kepada Raden Keling.
Demi keamanan dan kehidupan, mereka bergabung menjadi rakyat Toboali dan menetap di suatu tempat yang disebut dengan Tagag.
Kekuatan rakyat Toboali semakin bertambah, hasilnya Raden Keling berhasil mengambil alih kekuasaan terhadap tempat yang dikenal sebagai Benteng pertahanan di Toboali Baru.
Terbunuhnya Mr. Brown oleh Raden Keling menjadi awal kebangkitan rakyat Toboali, walaupun masih dibayang-bayangi oleh keberadaan Belanda dan Inggris di tanah Bangka.
Selain Raden Keling dan Raden Ali, pangeran-pangeran Palembang lainnya juga mendominasi kekuatan di tanah Bangka, membuat Belanda hingga Inggris menjadi kesulitan untuk berkuasa penuh.
Kegelisahan Belanda dan Inggris semakin menjadi-jadi dikarenakan adanya pergejolakan yang terus terjadi oleh perlawanan rakyat maupun oleh perampokan bajak laut.
Hingga terdengar cibiran disertai fitnah dari orang-orang inggris bahwa Raden Keling adalah sosok pribumi yang jahat dan menyelundupkan timah ke Belitong.
Namun semua itu sia-sia, tidak ada rakyat Bangka yang mempercayainya.
Terlebih lagi Raden Keling adalah sosok yang tidak pernah mengakui kekuasaan Inggris di tanah Bangka.
Kepada seluruh Rakyat Toboali ia mengatakan bahwa “Kita adalah satu, Kita merdeka, Kita tidak tunduk kepada Inggris, lebih baik mati berkalang tanah, daripada tunduk pada Bangsa asing!”
Penguasaan terhadap Benteng Toboali tidak membuat Raden Keling lekas berpuas hati, akan tetapi ia terus mewaspadai bahwa akan adanya serangan yang kembali datang dari musuh-musuhnya, apalagi antek-antek asing yang mudah saja menyelinap masuk ke daerah kekuasaan Raden Keling.
Dan benar saja kedatangan Raja Akil bersama pasukannya dari Siak diketahui oleh Raden Keling.
Mereka adalah utusan Inggris yang sedang dalam perjalanan untuk memburu Raden Keling.
Terjadilah peperangan di perairan laut Lepar, Raden Keling bersama Raden Ali dibantu oleh rakyat Belitong berhasil memukul mundur Raja Akil dan melarikan diri ke pulau Jawa.
Sudah banyak perompak yang tertangkap oleh Raden Keling dan Raden Ali, banyak yang bergabung dan banyak pula yang tewas karena perlawanan yang tidak akan pernah sebanding dengan kecerdikan Raden Keling.
Walaupun perampokan dan penyelundupan masih banyak, dan merajarela di perairan Pulau Bangka.
Namun satu persatu Lanun akan terus berkurang dan menyerah ditangan Raden Keling sang penguasa daratan dan lautan.
Beberapa waktu pun telah berlalu, Raden Ali dan Raden Keling sedang berdiri di kala senja hari tepat di Benteng Toboali, mereka bercakap-cakap.
“Wahai Ayah ku, semua sudah kita selesaikan, Lanun hingga boneka Inggris pun sudah bertekuk lutut, lantas apa yang harus kita selesaikan lagi ?” tanya Raden Ali.
“Berdiamlah di sini sejenak, cukup berjaga di parit-parit timah, karena Lanun selalu mengintai mencari kesempatan ketika kita lengah, kita tunggu perintah selanjutnya dari Kesultanan,” jawab Raden Keling.
“Apa perlu kita bantu sahabat-sahabat Ayah yang sedang berjuang di Bangka Kota?” tanya Raden Ali.
“Tak perlu kau khawatirkan wahai Anak ku, Belanda dan Inggris pun tak akan bisa berkutik, di sana ada seorang pendekar silat sambut yang sangat hebat, ia dikenal sebagai Batin Tikal, kita berdua tak sepadan dengannya, dan percayalah Belanda tak akan bisa melukainya terkecuali mereka mengetahui apa yang menjadi kelemahannya!” jawab Raden Keling.
“Kelemahan seperti apa yang Ayah maksud?” tanya kembali Raden Ali.
“Tidak ada yang abadi di dunia ini, setiap kekuatan pasti ada kelemahan, apalagi hanyalah manusia biasa, hanya semangat perjuanganlah yang akan abadi, menjadi sejarah yang akan terus dikenang!” jawab Raden Keling.
Mendengar hal itu Raden Ali pun tersenyum lega, sambil menghadap kearah laut.
Sejenak percakapan itu pun terhenti di kala angin pantai ikut berhembus, memberikan seribu makna dari seorang ayah kepada anaknya, sambil menanti senja yang mulai bertahta, sampai menyudahinya dari tepian tebing Benteng Toboali.
Selesai
Penulis adalah Pamong Budaya Kabupaten Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.