Indonesia termasuk satu dari sekian negara Asia yang mengalami kemajuan. Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDA) seperti mineral, hasil kelautan, perkebunan, pertanian namun jadi pemilik dari SDA yang hanya menjual bahan mentah kekayaannya tanpa ada keberlanjutan tidaklah cukup.

“Indonesia tidak boleh seperti itu karena Indonesia harus mampu mengolah SDA nya agar bisa menyejahterakan rakyatnya. Ini tentang hilirisasi yang sudah ratusan kali saya sampaikan. Hilirisasi dengan sumber baru terbarukan yang dapat meminimalisir dampak lingkungan dan membangun kembali lahan-lahan pasca pertambangan,” ujarnya.

Selain itu hilirisasi tidak hanya pada komoditas mineral tapi nonmineral seperti CPO sawit, rumput laut dan yang lainnya dengan bermitra bersama UMKM, petani dan nelayan agar manfaatnya terasa langsung oleh masyarakat.

Baca Juga  Atlet PON Babel Sabet Juara I Kejuaraan Biliar Kajari Cup 2023

“Ini harus terus dilakukan meski pahit untuk pendapatan jangka pendek, namun jika ekosistem sudah terbentuk dan pabrik sudah beroperasi maka akan berbuah manis, seperti 2020 lalu kita stop ekspor nikel, kemudian investasi hilirisasi nikel bertambah dan ini membuka lapangan kerja yang besar. Jika kita konsisten untuk hilirisasi mineral nikel rumput laut dan CPO maka dalam 10 tahun ke depan pendapatan perkapita kita akan meningkat dua kali lipat,” ujarnya.

Kepala negara juga mengatakan bahwa pemimpi ke depan sangat menentukan masa depan Indonesia. Bukan siapa yang akan menjadi presidennya namun sanggup atau tidak untuk bekerja melanjutkan yang sudah kita mulai sampai saat ini.

Baca Juga  Siap Bertarung Pemilu 2024, PKB Daftarkan 30 Bacaleg ke KPU Bateng

“Dalam pengambilan kebijakan juga akan semakin sulit sehingga dibutuhkan keberanian dan kepercayaan bisa tidaknya suatu kebijakan dan keputusan tersebut diikuti,” ujarnya. (**/Zhavia)