Jejak Peradaban Urang Laut Beltim adalah Harmoni antara Manusia dan Laut
“Melalui seminar ini akan membawa kita untuk lebih memahami nilai-nilai luhur dan bagaimana mereka tetap relevan dalam dunia yang terus berubah,” jelas Aan.
Dalam seminar nasional itu menghadirkan empat narasumber yakni Judi Wahjudin selaku Direktur Perlindungan Kebudayaan Kemendikbudristek, Sony Christophorus selaku peneliti muda utama Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Ira Dillenia selaku peneliti muda pada Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Aryandini peneliti ahli madya pada BRIN.
Salah satu narasumber dalam seminar itu, Ira Dillenia selaku peneliti muda pada Badan Riset dan Inovasi Nasional mengatakan beberapa tradisi kemaritiman dan budaya Bahari Suku Sawang yang sangat perlu dilestarikan.
“Berbagai ritual dan kesenian yang ditampilkan dalam upacara adat Buang Jong, menggambarkan aktivitas melaut Suku Sawang dan cara mereka berkomunikasi dengan para leluhur mereka,” kata Ira.
Selain itu, ia mengharapkan adanya perlindungan situs dan warisan budaya bahari dengan mengharapkan peran serta nelayan, kemudian perlu dukungan dari pemerintahan lokal untuk mengatur pemanfaatan perairan laut, perlu adanya kebijakan perlindungan budaya bahari orang Sawang terutama kemahiran menyelam, Gusong Cine dapat diusulkan sebagai kawasan konservasi maritim Urang Laut Belitung Timur. (ver kominfo beltim)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.