Pada bagian kedua, Jemi memfokuskan pijakan tulisan tentang pertambangan timah yang memiliki andil besar bagi terbentuknya sejarah di Bangka Belitung.

“Puisi di bagian ini berpijak dari kelindan masa lalu-masa kini yang saya amati dan alami selaku penyair. Timah dalam amatanku di satu sisi merupakan anugerah, tetapi di kemudian hari jadi masalah lingkungan berkepanjangan,” sambungnya.

Jemi menyebut, dirinya menyajikan buku puisi yang tidak hanya sebatas untuk mengasah rasa-merasa melalui keindahan bahasa, tetapi juga indra rabaan dan penglihatan. Mengaktifkan daya merasa manusia.

“Jika kritikus sastra Indonesia A. Teeuw (1980) kesohor dengan frasa “tergantung pada kata”, maka kredo konsep produksi kami adalah “Bergantung pada Kata”. Puisi-puisi di buku puisi ini direspons oleh perancang visual Aka Rifai dengan permainan grafis yang bertumpu pada tata tulis kata. Rancang grafis ini memperkuat kekuatan puisi, tanpa memaksa puisi menjadi narasi visual,” katanya.

Baca Juga  Pantun: Serumpun Sebalai, Negeri yang Cinta Damai

Ia menyebut, selain dari visual tipografi di dalamnya, rilisan fisik buku puisi ini juga unik, sampulnya rangkap dua. Sampul luar yang hanya setengah dan sampul dalam yang utuh. Sampulnya menggunakan kertas jenis Old Mill Premium White karya Fedrigoni Fabriano yang dikembangkan dan diproduksi Fedrigoni Paper di Italia, dengan prinsip ESG (Environmental Social Governance) yang ramah lingkungan.

“Old Mill Premium White merupakan jenis uncated dengan tekstur felt-market di kedua sisinya, sehingga pembaca akan mendapatkan pengalaman perabaan tekstur yang menarik,” imbuhnya.

Jemi menambahkan, buku puisi Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara Tentang Cinta, setelah terbit bisa dipesan melalui media sosial Instagram/Facebook @jemibatintikal atau di beberapa reseller toko buku yang bekerja sama dengan penerbit Litani Literasi.

Baca Juga  Menggeliatkan Ekonomi Bangka Belitung melalui Pengembangan Pariwisata