Seiring berjalannya waktu lahan ume mulai ditumbuhi oleh tunas-tunas bekas rebak harus dibersihkan. Tunggul-tunggul kayu mulai berpucuk.

Rumput-rumputpun mulai tinggi. Pada pagi dan sore harus dibuat pengasapan. Pengasapan dilakukan dengan membakar daun-daun muda (tunas-tunas) dan rerumputan hasil pembersihan dan mengumpulkan ranting-ranting.

Hasil pembakaran ini membuat asap yang tebal. Gumpalan asap tebal juga bisa mengusir hama serangga dan kawanan kera serta hewan pengganggu lainnya.

Apabila petani harus pulang kampung, maka sebelum pulang harus mengucapkan sepatah dua kata kepada padi. “Padi-padi, ko tinggal pulang duluk ok isok pagi ko gi agik mere ikak.” (Padi-padi, saya pulang dulu ya, besok saya pergi lagi menemui kalian.)

Baca Juga  Urgensi Pelestarian Tradisi Hikok Helawang sebagai Upaya Memperkuat Eksistensi Adat dan Budaya Babel

Keesokan harinya, saat petani tiba di ume harus mengucapkan salam. “Asslamu’alaikum padi-padi, ni ko lah datang mere ikak”. (Assalamu’alaikum padi-padi, ini saya sudah datang menemui kalian).

Komunikasi antara petani dengan padi-padi menandakan bahwa petani begitu menghormati padi-padi yang diharapkan akan memberikan hasil yang maksimal kepada sang empunya yang bertujuan supaya padi tidak ampak (kosong).

Tanpa menunggu waktu lama, padi yang bunting akan ngurai (mengurai). Yaitu keluarnya butir-butir padi dari bagian batangnya. Butir-butir padi itu apabila dipecahkan akan terlihat seperti air susu. Putih dan akan terasa agak manis.

Untuk mengusir kejenuhan menunggu padi menguning, dibuatlah alat musik sederhana dengan bahan kayu mang.

Kayu mang merupakan jenis kayu yang ringan dan lempung. Pada bagian tengah terdapat semacam busa yang berwarna hitam lembut. Pada bagian ini sering dijadikan semut hitam bersarang.

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian 5)

Alat itu dikenal masyarakat dengan nama ketitung atau kelintang kaki.

Cara membuat ketitung atau kelintang kaki sangat sederhana, kayu mang (kayu daun lebar/ hardwood) kering sebesar tangan orang dewasa dipotong kurang lebih 30-50 cm dan dibelah menjadi dua bagian.

Kayu yang dibelah berjumlah empat, enam atau delapan. Kulit kayu mang dibuang atau dikupas. Kayu mang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama kayu tisuk atau baru besi (Hibiscus macrophyllus). (Bersambung)

Meilanto, Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya