Ia mengungkapkan, operasi berjalan dengan lancar menghabiskan waktu sekitar dua jam setengah. Dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 11.30 WIB.

Namun usai operasi, Solha tak kunjung sadarkan diri. Bahkan Sampai keesokan harinya Jumat (15/9) korban belum juga sadar.

Hingga akhirnya langsung ditangani oleh dokter hingga dibawa ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Hingga Sabtu (16/9) korban dinyatakan meninggal dunia.

“Pada saat itu orangtua saya datang ke rumah sakit dalam keadaan sehat. Awalnya cuma mau mengecek benjolan yang ada di punggung. Tapi setelah operasi, orang tua saya kritis sampai dua hari setelahnya meninggal dunia,” ujar Nadia.

Ia menceritakaan sesaat sebelum operasi dirinya sempat bertanya dengan sejumlah perawat yang ada di RSUD Bangka Selatan.

Baca Juga  Sambut HUT ke-72 Humas Polri, Polres Basel Gelar Donor Darah

Ketika itu, dokter anestesi yang seharusnya menangani pasien tidak ada di lokasi.

Padahal dokter anestesi bertanggung jawab dalam proses pembiusan sebelum pasien menjalani operasi atau prosedur medis lainnya.

Diduga, saat operasi pembiusan dilakukan tanpa didampingi oleh dokter anestesi.

“Ibu saya dioperasi hanya dilakukan oleh dokter bedah tanpa didampingi dokter anestesi. Sedangkan yang harus memasukkan obat bius adalah dokter anestesi,” paparnya.

Untuk itu, Nadia akhirnya mencari keadilan dengan mengadu dugaan malapraktik itu ke Polres Bangka Selatan.

“Kami hanya mau mencari keadilan, supaya pasien lainnya tidak ada yang menjadi malapraktik seperti ibu saya,” pungkas Nadia.

Sementara itu hingga berita ini diturunkan, timelines.id masih berupaya mengonfirmasi manajemen RSUD Basel.

Baca Juga  Penambang Timah Tewas saat Menyelam di Laut Tempilang