Para pemuda pemudi akan mengiser beras. Ngiser beras adalah kegiatan membuat atau menghaluskan beras yang sebelumnya sudah dicuci dan direndam dalam panci selama seharian dan dihaluskan menggunakan batu penggiling khusus.

Yang mana kegiatan mengiser beras ini sangat dinantikan oleh remaja pada zaman itu.

“Mengiser beras” dilakukan berpasang-pasangan dan tak jarang pada malam mengiser beras ini remaja waktu itu ketemu dengan jodohnya.

Pada hari beselamet ini para tetangga dan sanak saudara sudah mulai berdatangan untuk membantu keluarga penganten, mulai dari membersih alat-alat masak dan makan, mengambil sayur-mayur dan bumbu-bumbu di kebun, membuat tungku dan pantai.

Pantai di sini adalah sebutan lain untuk lantai tempat yang terbuat dari kayu kurang lebih seratus batang kayu kecil dan panjang yang disusun rapi sehingga bisa digunakan oleh warga untuk duduk duduk membersihkan sayur, ayam,ikan dan lain-lainnya.

Pada hari ini juga biasanya para tetangga dan sanak saudara membantu membuat pentas/panggung untuk grop musik penghibur hari penganten.

Pada malam harinya penganten perempuan bepacar. Ritual bepacar ini mengadopsi budaya India  seperti menggunakan hena pada kuku dengan lengan yang diakulturasikan dengan bahan alami yang ada di daerah setempat.

Bepacar menggunakan daun pacar atau daun inai yang sudah ditumbuk dan dicampur dengan gambir yang digunakan untuk memerahkan kuku tangan dan kaki kedua penganten .

Satu hari sebelum hari besar atau hari mutong, rumah penganten sudah ramai oleh tamu dan kerabat handai taulan. Pada hari tersebut keluarga sudah mulai memasak untuk acara resepsi pernikahan.

Baca Juga  Nasi Tiwul, Warisan Budaya yang Kaya Gizi

Sedangkan malam sebelum hari besar acara resepsi pernikahan, penganten perempuan sudah di rias dengan cantik dan duduk di pelaminan seorang diri.

Supaya masyarakat bisa datang berbondong-bondong untuk melihat pengantin.

Bahkan menurut ibu Soliha dan ibu Sulastri pada malam hari mutong  ini dulunya sering dilakukan akat nikah dan kedua penganten diarak  pada malam hari mengunakan hadra atau robana dengan dibantu Lampu Pom atau lampu patromak. Karena pada waktu itu listrik belum masuk ke desa.

Ari begawai atau hari penganten atau hari besar tiba.

Kedua pengantin dirias dengan cantik dan gagah dengan menggunakan pakaian adat Bangka Belitung Paksian.

Acara biasanya dimulai pada pagi hari dimana pihak penganten perempuan mengantarkan kue penganten berikut kopi susu serta nasi lengkap dengan lauk pauknya ke rumah penganten laki-laki.

Selanjutnya sekitar pukul 08.00 WIB akan diadakan acara arak-arakan penganten wanita dengan dipayungi oleh gadis remaja yang cantik sambil diiringi music tanjidor dan rebana untuk menjemput penganten laki-laki.

Setelah sampai dirumah penganten laki-laki, penganten perempuan akan disambut dengan bacaan solawat dan doa-doa untuk kebahagian pasangan penganten sambil kedua penganten dihujani dengan beras kunyit yang diisi uang logam dengan maksud semoga kehidupan kedua penganten nantinya hidup dengan penuh kemakmuran dan kebahagian.

Baca Juga  Update Weton Jawa, Sabtu Kliwon 10 Desember 2022: Tingkat Kesabaran Tinggi, Cocok Bekerja Di Bidang Ini

Arak-arakanpun berlanjut, arak-arakan ini biasanya mengeliling kampung hingga sampai ke rumah penganten wanita.

Arak-arakan ini bermakna untuk memberi tahu kepada masyakat desa bahwa sebentar lagi akan terjadi akat nikah dan pasangan penganten akan resmi menjadi suami istri.

Setelah arak-arakan selesai maka akad nikahpun dimulai. Pada saat acara akat nikah berlangsung, tetamu yang datang juga disuguhi dengan aneka makanan yang sudah disiapkan tuan rumah.

Setelah acara akad nikah kedua pengantin duduk bersanding di pelaminan dengan diiringi oreks musik yang disewa sampai jam sebelas siang.

Siang harinya pihak penganten perempuan kembali mengantarkan nasi dan lauk pauk penganten ke rumah penganten laki-laki.

Pada akhir tahun 90-an arak-arakan penganten akan dilakukan lagi setelah Zuhur atau sekitar pukul dua siang.

Arak arakan ini bermakna pemberitahuan kepada masyakat desa bahwa pasangan penganten sekarang sudah syah menjadi suami istri, dan bila penganten laki-laki dari luar Lepar, pihak keluarga akan membawa koper berisi pakaian penganten laki-laki saat acara arak-arakan ini.

Tradisi ini bermakna bahwa penganten laki-laki siap untuk tinggal di pulau Lepar.

Tapi sekitar awal tahun 2000an arak-arakan ini sudah tidak ada lagi. Menurut salah satu warga yang baru saja melangsungkan pernikahan Rifki Dayu, dia tidak pernah tahu kalau dulunya ada acara berarak buari.

Penganten sekarang sudah tidak mau lagi ikut adat berarat tersebut dikarena merasa malu.

“Malu base urang dak hua agik berarak buari, hude tu leteh,” begitu kurang lebih ucapan penganten saat ini. (malu kalau melakukan arak-arakan siang karena hal ini sudah tidak pernah dilakukan lagi, dan capek).

Baca Juga  Selamat, Elvino dan Mawar Dinobatkan sebagai Duta GenRe Bangka Selatan 2024

Tapi walaupun penganten tidak melakukan arak-arakan masyarakat desa tetap dihibur oleh group musik sampai pukul empat sore hari.

Acara terus berlanjut pada malam harinya,sekitar jam setengah delapan malam, kurang lebih setelah shalat isya.

Biasanya acara ini juga dihadiri oleh muda-mudi, aparat/instansi dan masyarakat setempat.

Acara malam hari ini biasanya dimulai dengan kata sambutan dari pihak keluarga, aparat tinggi desa tersebut.

Acara malam hari ini bisa dikatakan sebagai malam puncak dari acara penganten lepar ini. Kedua pengantenpun didandan dengan dandanan yang sangat memukau.

Acara pada malam hari inipun dihibur dengan orkes musik dengan lagu-lagu yang sangat disukai anak-anak muda sekarang. Acara akan berakhir sampai jam sebelas malam.

Pada esok harinya adalah acara bepuleng dimana masyarakat akan kembali bergotong royong untuk membantu keluarga penganten dalam membersihkan bekas sampah pesta semalam, membokar pentas, membongkar tenda, dan memngembalikan kursi dan alat- lainnya yang digunakan dalam resepsi penganten.

Kedua penganten pun sudah tidak diperlakukan sebagai Raja dan Ratu lagi. Mereka akan diminta bantuannya dalam acara bepuleng.

Seperti itulah gambaran penganten Lepar dari dulu sampai saat ini.

Cik Mun, SE, salah seorang pengajar di SMAN 1 Lepar, Bangka Selatan.