Batang- batang padi juga dibisa dimanfaatkan untuk tukui sahang yang diletakkan pada bagian atas tukui sahang. Biasanya tukui sahang menggunakan kayu-kayu kecil dengan daun yang masih ada atau menggunakan resam.

Tukui sahang berfungsi supaya bibit sahang yang baru ditanam tidak kepanasan atau bisa juga ditebar (diembab) dilungkang-lungkang sahang yang berfungsi untuk kompos. Tukui sahang berbentuk seperti rumah-rumahan berbentuk kerucut.

Selanjutnya lahan bekas ume baik di darat maupun di lebak sering pula tidak dimanfaatkan dengan ditanami dengan tanaman lain. Terutama bekas lahan di lebak selesai panen, lahan dibiarkan begitu saja.

Lahan tersebut akan ditumbuhi tunas-tunas baru. Kayu seperti kemirai dan sesayat sangat mendominasi. Di lahan darat kayu-kayu seperti seruk, merapin, pelangas, keramunting dan lain-lain hidup bebas.

Baca Juga  Bumbu 3: Rasa Syukur di Balik Kesederhanaan

Lahan tersebut dikenal dengan bebak. Baik di darat maupun di tanah lebak yang telah menjadi bebak, lama kelamaan akan menjadi hutan sekunder. Lahan bebak masih dimiliki sepenuhnya oleh sang petani.

Sebagian masyarakat mengenal bebak dengan belukar lame.

Umumnya petani yang tinggal dipondok-pondok kebun juga memelihara ayam dan serati.

Kandang (reban) tersebut sering kali dibuat tidak jauh dari pondok, di kiri, kanan atau belakang bahkan dibawah pondok.

Di kiri dan kanan atau belakang yang mash ada sedikit atap pondok sering pula disediakan tempat ayam bertelur menggunakan bambu. Bambu utuh dengan panjang sesuai selera pemilik ayam.

Bagian atas dibelah-belah dan kemudian dibuka dan dijalin dengan akar atau rotan sehingga menganga. Bagian yang meganga tersebut dilapisi dengan rumput tanduk rusa. (Bersambung)

Baca Juga  Qarun dan Paradoks Pertambangan Mineral

Meilanto, Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya