Puluhan Emak-emak Unjuk Rasa di Kantor Bupati Basel, Protes Harga Timah hanya Dibeli Rp75 Ribu per Kilogram
Selisihnya mencapai Rp105 ribu, yakni dengan harga Rp75 ribu per kilogram.
Parahnya, kata Nadia, jika tidak menyetor timah kepada mitra maupun perusahaan, timah tersebut dijarah.
Tentunya masalah ini sangat memberatkan para penambang.
“Setahu kami harga timah Rp180 ribu, kini dibeli harga Rp75 ribu per kilogram. Kalau timah hanya dapat 10 kilogram tidak menyetor timahnya dijarah, diambil,” keluh Nadia.
Lebih jauh ungkapnya, kejadian tersebut telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir.
Terbaru, sekitar dua hari terakhir sejumlah penambang juga mengalami kekerasan verbal. Maka dari itu pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan.
Tak hanya itu, dengan harga beli timah yang murah tentunya tak sebanding dengan biaya operasional cukup besar.
Begitu pula dengan biaya hidup, harga kebutuhan bahan pokok terus melambung naik. Sehingga hal ini dapat menyulitkan masyarakat dalam mencari rezeki.
“Ada juga mendapatkan perlakuan kasar. Ada timah kami diambil 10 kilogram dua hari lalu. Ada ratusan ponton bekerja di sana,” ungkapnya.
Meskipun begitu kata Nadia, pihaknya hanya menuntut mitra maupun perusahaan pembeli timah dapat menyesuaikan harga.
Minimal harga beli timah mencapai Rp160 ribu per kilogram. Setidaknya mampu menutupi biaya operasional maupun gaji penambang timah.
“Kami minta Rp160 ribu harganya. Karena satu ponton minimal lima orang bekerja. Jadi jangan sampai menindas rakyat,” pungkas Nadia.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.