“Dia itu tetangga depan rumah saya. Masa membuat SKTM saja meminta jasa orang lain. Kan ada RT, kaling sesuai prosedurnya. Ini malah nyuruh orang lain. Coba pikir gimana,” kata Ardani kepada wartawan, Sabtu sore.

Menurut Ardani, sebagai kades dirinya tentu flexible dalam memberikan pelayanan kepada warganya. Hal tersebut bisa dilakukan warga dengan mendatangani rumahnya dan bisa dilanjutkan di kantor desa untuk membuat SKTM.

“Kalau dia ga sempat karena alasan kerja. Kan bisa datang ke rumah. Nanti hari Senin saya minta staf untuk membuatkannya. Ini tidak, dia malah nitip ke orang lain,” jelasnya.

Mengenai bantuan PKH, dia juga tak menampik akan menggantikan nama penerima bantuan tersebut. Alasannya, memang janda anak tiga tersebut dianggap sudah hidup berkecukupan alias mampu.

Baca Juga  Rumah di Gang Meranti Parit Padang Digerebek, Polisi Temukan 13 Paket Sabu

“Ya benar dia janda anak tiga. Anaknya ada yang masih sekolah. Tapi kan sekarang dia sudah bekerja di perusahaan, rumahnya bagus, motornya dua. Itu ditentukan dalam rapat bersama untuk menentukan penerima bantuan PKH. Bukan kewenangan saya sendiri. Karena ada warga yang lebih layak menerima bantuan,”katanya.

Disinggung mengenai ada warga yang tidak senang kepada dirinya sebagai kades, Ardani tertawa ringan. Dia mengatakan hal itu menjadi biasa dalam kedewasaan berdemokrasi ketika sosok yang didukung tidak memenangkan ajang pilkades.

“Biasalah orang gak senang karena kalah kemarin. Beda suaranya jauh. Saya 1.000 dia cuma 100. Sebagai kades di periode kedua ini saya tetap melayani warga seperti biasa baik yang mendukung saya atau tidak,”tegasnya. (**)

Baca Juga  M Haris Ditunjuk sebagai Pj Bupati Bangka, Ini Harapan Pj Gubernur Suganda