Ketika ketidaksesuaian ini terjadi, biasanya orang akan merasa tidak nyaman atau terbebani dengan perasaan yang tidak enak.

Ini karena pikiran kita ingin konsisten antara apa yang kita yakini dan apa yang kita lakukan. Ketika ada ketidaksesuaian, hal ini menciptakan disonansi kognitif – konflik dalam pikiran kita.

Respon psikologis terhadap disonansi kognitif

Menurut teori disonansi kognitif, kita selalu mencari konsistensi antara keyakinan, nilai, dan sikap atau perilaku. Ketika terjadi ketidaksesuaian, individu akan merasa tidak nyaman dan mencari cara untuk mengurangi ketegangan psikologis tersebut.

Teori disonansi kognitif mengatakan bahwa ketika terjadi disonansi kognitif, individu akan mencoba mengurangi ketegangan psikologis tersebut dengan berbagai cara. Salah satu cara yang umum adalah dengan mengubah atau membenarkan salah satu komponen yang bertentangan.

Baca Juga  Jadi Pendengar yang Baik Ternyata Bisa Tingkatkan Skill Komunikasi

Sebagai contoh, dalam kasus rokok tadi, individu yang menganut keyakinan bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan mungkin akan mencari informasi tentang “merokok ringan” atau menganggap bahwa risiko merokok dapat dikompensasi dengan gaya hidup sehat yang lain.

Individu juga bisa berupaya menghindari situasi atau informasi yang dapat memperkuat ketidaksesuaian tersebut.

Contohnya, individu yang menyadari bahwa mereka berperilaku bertentangan dengan keyakinan mereka bisa saja menghindari teman-teman yang merokok atau menjauhkan diri dari situasi yang memicu keinginan untuk merokok.

Selain itu, individu juga dapat mengubah persepsi mereka terhadap konflik tersebut dengan memberikan alasan-alasan baru yang membantu mereka merasa konsisten. Misalnya, orang tersebut mungkin merasa bahwa “saya merokok hanya sesekali, jadi itu tidak terlalu berbahaya.”(Dilansir dari komunikasi.unhas.ac.id)