Ratusan ribu hektar lahan yang telah dikorbankan dalam eksploitasi ini.

Ratusan juta gulden uang mengalir ke negara sejak era kolonial.

Meningkatkan lahan yang dijadikan tempat untuk mengeksploitasi sumber daya alam ini menyebabkan ruang hidup yang semakin sedikit.

Maka masyarakat pun harus hidup berdampingan dengan lahan bekas pertambangan timah ini, yang di mana lahan tersebut rentan terhadap paparan radioaktif.

Meningkatkannya lahan bekas tambang dan semakin menipisnya ruang hidup manusia dan makhluk hidup yang lain.

Teringat dengan sebuah lagi karya Iksan Skuter yang berjudul “Kami Butuh Lahan” yang menggema di udara:

Tuan kami hanya butuh lahan

Untuk perjuangkan semua

Yang kami harapan

Baca Juga  Otoritas Terbatas Badan Layanan Umum Daerah

Hei tuan kami memilihmu untuk

Melindungi mimpi kami

Bukan untuk membuyarkannya

Dan tuan kami memilihmu bukan

Untuk membela pengusaha

Yang merampas tanah kita

Pernahkah tuan membayangkan rasa sedih kami

Pernahkah tuan merasakan amarah kami

Pernahkah tuan membayangkan menjadi kami

Pernahkah tuan membayangkan membayangkan.

Pemerintah dan negara seperti kacang yang lupa kulit

Perlu kita sadari dan dicatatkan bahwa perjalanan eksploitasi ini sudah berjalan ratusan tahun yang lalu, yang di mana uang hasil bumi Bangka Belitung mengalir ke kantong negara ratusan juta gulden dolar.

Besarnya uang yang mengalir ke pusat tersebut tidak sebanding dengan dampak yang masyarakat yang menjadi korban di wilayah Bangka Belitung khususnya wilayah tambang tersebut. Pemerintah dan negara seperti sebuah kacang yang lupa akan kulitnya.

Baca Juga  Dirut RSUD Dr. (H.C) Ir. Soekarno Babel Ungkap Sejumlah Permasalahan Yang Dihadapi

Raza Ar Rifki, Pelajar SMA kelas XI Kelahiran Bangka yang saat ini aktif di Perpustakaan Jalanan atau Pegiat Literasi Jalanan di Kota Malang