Dalam merdeka belajar, peserta didik memiliki kebebasan untuk memilih metode belajar yang sesuai dengan gaya belajarnya, menentukan materi yang ingin dipelajari sesuai minat dan bakat yang dimiliki, serta menentukan waktu dan tempat belajar yang paling efektif baginya.

Namun, sayangnya, pemahaman guru mengenai merdeka belajar ini seringkali salah kaprah. Banyak guru yang masih memandang merdeka belajar sebagai kebebasan yang mutlak, tanpa memberikan arahan dan bimbingan yang cukup kepada peserta didik.

Pemahaman yang salah kaprah ini sangat berdampak negatif pada proses pembelajaran di kelas. Guru beranggapan bahwa kehadirannya di kelas tidak sepenting dahulu, mereka hanya berperan sebagai penyampai informasi.

Akibatnya, guru mulai berpikir ada atau tidak dirinya di dalam kelas, hasilnya akan sama saja.

Baca Juga  Apa sih Bedanya Gangan Kuneng Bangka Selatan dengan Gangan Belitong, serta Lempah Kuning dalam Sudut Pandang Budaya

Toh, kalau hanya sebagai penyampai informasi, siswa pun bisa mencarinya di dalam buku. Fenomena ini diperparah dengan pelaksanaan program pelatihan peningkatan kompetensi yang diikuti bertepatan dengan jam mengajar atau tugas tambahan yang dibebankan kepadanya membuat guru tidak dapat memberikan pelajaran di kelas.

Hal ini semakin meminimalisasi waktu kebersamaan antara guru dengan siswanya.

Padahal, tujuan sebenarnya dari merdeka belajar adalah untuk memberikan peserta didik kebebasan dalam belajar, namun tetap disertai panduan dan bimbingan dari guru. Guru tetap memiliki peran vital sebagai pemandu dan fasilitator pembelajaran di kelas.

Guru tetap harus memberikan arahan, memberikan materi yang relevan, serta memberikan umpan balik yang membangun kepada peserta didik. Dengan demikian, merdeka belajar dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang maksimal bagi peserta didik.

Baca Juga  Mempertahankan Budaya Malu

Seperti yang telah penulis sampaikan, tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak manapun.

Tulisan ini hanya berdasarkan perspektif pribadi dari penulis, karena merasa prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini. Ini hanya sekadar coretan kecil dari seorang guru biasa, yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, yang hanya menjalankan tugasnya demi mencerdaskan anak bangsa.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin mengucapkan Selamat Hari Guru kepada para guru di negeri ini. Semoga kita, para guru senantiasa diberikan kesehatan untuk mengabdi dan melayani dengan hati demi anak negeri, Sang Pengukir Prestasi. Terima Kasih.

Windu Budiarta, S.Pd, Guru SMP Negeri 2 Tukak Sadai