Walaupun diterpa bisnis kopi kekinian yang kian menjamur, tak serta merta menciutkan nyali Ahian. Pelanggannya tetap loyal untuk menyeruput kopi racikannya.

“Iya memang banyak kopi moderen sekarang yang menggunakan mesin. Tapi selera pelanggan itu berbeda beda. Kalau disini masih banyak pelanggan dari usia remaja hingga para manula,” ucapnya terkekeh kekeh.

Hal tersulit bagi Ahian adalah saat semua bahan pokok melambung tinggi. Dia mengaku sangat tak tega menaikan tarif kopi yang ia jual. Ahian masih konsisten menjual kopi dengan Rp5 ribu gelas kecil dan Rp8 ribu gelas besar. Baginya biar untung sedikit tapi pelanggan tetap leluasa menikmati hangatnya kopi racikannya.

“Mau gimana lagi. Kasian pelanggan kalau harus dinaikan harganya. Jadi ga apa apalah untung sedikit. Yang penting pelanggan bisa ngopi,” ujar pria yang dikenal supel dan ramah ini.

Baca Juga  Yuk Hadiri Festival 1 Muharram 1445 Hijriah di Kenanga

Mulai pukul 03.00 WIB, Ahian dibantu 2 orang pekerjanya sudah membuka kedai kecilnya. Dia senang dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Terlebih lagi ia sangat bangga karena sejumlah pekerjanya setelah belasan tahun ikut bekerja di warkop miliknya dan kini sekarang sudah bisa mandiri dengan membuka kedai kopi.

“Syukurlah bisa memberi orang lapangan pekerjaan. Dan ada sebagian yang kerja saya sama dulu sekarang sudah sukses membuka kedai kopi,” katanya haru.

Dengan kondisi itu, Ahian tak merasa kedai kopi milik mantan karyawannya sebagai saingan. Baginya dapat memberikan ilmu yang berguna bagi orang lain merupakan sebuah kebahagiaan.

“Kompetitor itu tidak ada. Semua sudah ada rezekinya masing masing. Modal yang terpenting untuk memulai usaha adalah ketekunan dan kejujuran, itu kunci sukses,”pesan Ahian.

Baca Juga  Mabuk Berat, Pemuda di Merawang Perkosa ABG

Dari warung kopi sederhana inilah, Ahian mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus perguruan tinggi dan sukses di negeri orang.

“Anak sulung saya kerja di Vietnam. Dan yang nomor dua di Jakarta,”katanya. (**)