2. Pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga juga bisa menjadi faktor penyebab materialisme pada anak. Anak-anak yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah jauh lebih materialistis, ketimbang anak-anak yang tumbuh di keluarga berpenghasilan tinggi.

3. Masalah keluarga

Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua tunggal memiliki tingkat materialistis yang lebih tinggi. Hal ini terjadi jika dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga dengan keluarga inti lengkap.

4. Pola komunikasi keluarga

Pola komunikasi keluarga memainkan peran penting dalam membentuk sikap materialistis pada anak. Komunikasi yang mendukung dan memberikan pemahaman tentang nilai-nilai yang lebih penting ketimbang kepemilikan materi, dapat membantu mengurangi materialisme.

Sebaliknya, jika keluarga selalu menekankan kesuksesan, status sosial, atau kepemilikan barang sebagai ukuran keberhasilan, anak cenderung menginternalisasi nilai-nilai tersebut.

Baca Juga  Larangan Impor Pakaian Bekas, Bea dan Cukai Soekarno Hatta Batasi Barang Bawaan Penumpang di Bandara Internasional

5. Tipe sekolah

Sekolah yang menekankan nilai-nilai materialistik, seperti status sosial atau prestise berdasarkan kepemilikan materi, dapat meningkatkan kecenderungan materialisme pada siswa.

Sebaliknya, sekolah yang mendorong nilai-nilai seperti keberdayaan diri, kepedulian sosial, dan perkembangan pribadi, dapat membantu mengurangi fokus anak pada materi sebagai tolak ukur keberhasilan.(Dilansir dari Halodoc.com)