●Berjenis kelamin wanita.
●Pertambahan usia.
●Memiliki ras Asia dan Kaukasia.
●Memiliki bentuk tulang yang kecil, tipis, dan ramping.
●Memiliki keluarga dengan riwayat osteoporosis.
●Menopause.
●Kebiasaan merokok.
●Diet yang tidak sehat.
●Menjalani sedentary lifestyle.
●Faktor risiko osteoporosis sekunder:
●Menderita penyakit autoimun, gangguan tiroid, atau gagal ginjal kronis.
●Pasien yang berbaring dalam waktu lama, misalnya pengidap stroke.
●Mengonsumsi obat-obatan tertentu yang memengaruhi sistem endokrin, imun tubuh, dan saluran pencernaan, serta pengobatan pada sistem saraf utama.

C. Gejala Osteoporosis Primer dan Osteoporosis Sekunder

Perbedaan osteoporosis primer dan sekunder juga bisa dilihat dari gejala yang ditunjukkan. Pada osteoporosis primer, biasanya penderita akan mengalami nyeri punggung hebat (disebabkan oleh fraktur tulang belakang), penurunan tinggi badan, dan masalah postur tubuh, seperti postur tubuh bungkuk (kifosis).

Baca Juga  Rekomendasi Item Zilong Mobile Legends 2023, Hero Lawas yang Tetap Menakutkan

Namun, osteoporosis primer cenderung tidak menunjukkan gejala apa pun di tahap awal, sehingga sering kali terlambat disadari. Gejala akan muncul seiring dengan berjalannya waktu ketika kondisi sudah semakin parah.

Secara umum, gejala osteoporosis primer dan sekunder tidak jauh berbeda, yaitu nyeri punggung, penurunan tinggi badan, hingga kifosis. Hanya saja, gejala-gejala ini dapat muncul secara bersamaan dengan gejala-gejala lain akibat penyakit yang mendasarinya.

D. Diagnosis Osteoporosis Primer dan Osteoporosis Sekunder

Perbedaan osteoporosis primer dan sekunder selanjutnya dapat dilihat dari segi diagnosis. Bagi pasien yang dicurigai mengidap osteoporosis, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis terkait dengan gejala serta riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan, pemeriksaan fisik, dan menjalani beberapa tes.

Baca Juga  Mau Postur Badan Menjulang Tinggi?, Kamu Wajib Baca Ini

Bedanya, pada osteoporosis primer, biasanya dokter akan melakukan tes FRAX (alat penilaian risiko patah tulang) untuk memperkirakan risiko patah tulang di masa depan, serta mengukur kepadatan tulang melalui tes DEXA (dual-energy X-ray absorptiometry).

Sementara itu, pada osteoporosis sekunder, biasanya akan dilakukan tes kepadatan tulang dengan DEXA, tes darah, serta X-ray.

E. Pengobatan Osteoporosis Primer dan Osteoporosis Sekunder

Terakhir, perbedaan osteoporosis primer dan sekunder terletak pada metode pengobatan yang dilakukan. Berikut masing-masing penjelasannya.

Pengobatan osteoporosis primer:

●Terapi penggantian hormon.
●Pemberian obat-obatan, seperti bifosfonat, kalsitonin, dan lain-lain.
●Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok.
●Menjalani terapi alternatif, seperti yoga dan meditasi.

Pengobatan osteoporosis sekunder:

Baca Juga  Persib Pantang Remehkan PSS Yang Sulit Menang

●Mengobati penyebab medis yang mendasarinya.
●Mengurangi dosis obat.
●Pemberian suplementasi vitamin D.
●Terapi penggantian testosteron.
●Pemberian obat-obatan.
●Menerapkan gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan berkalsium tinggi.

Itulah penjelasan mengenai perbedaan osteoporosis primer dan sekunder yang perlu Anda ketahui.

Pada intinya, osteoporosis primer adalah pengeroposan tulang yang dapat terjadi pada anak-anak/remaja atau karena proses penuaan. Sementara itu, osteoporosis sekunder adalah pengeroposan tulang yang terjadi karena ada kondisi medis yang mendasarinya.(Dilansir dari Siloamhospitals.com)