Anggaran Harap Maklum
Karena itulah maka peserta semua sangat menantikan kehadiran Kepala Bappeda dan ketua Komisi 2 DPRD. Sayangnya mereka berhalangan hadir.
Sebagai perbandingan saja misalnya dalam urusan olahraga di tingkat provinsi dan kabupaten kota alokasi pendanaan bisa dilakukan sampai belasan milyar.
Namun sebaliknya bila ada kegiatan kebudayaan yang menghabiskan dana satu milyar saja sudah dianggap sebagai kegiatan yang luar biasa besarnya.
Padahal kebudayaan merupakan salah satu urusan wajib yang mestinya memperoleh porsi perhatian yang lebih memadai.
Memahami Urusan Budaya
Selain itu ada masalah lain yang diungkapkan para budayawan di Bangka Belitung yang hari itu cukup lengkap hadir.
Mulai dari timur pulau Belitung sampai di ujung barat Pulau Bangka. Menurut mereka ada kesan bahwa para ASN yang selama ini menangani urusan kebudayaan belum sepenuhnya memahami substansi urusan kebudayaan.
Sehingga kesan yang kemudian timbul adalah sikap yang kurang peduli dan kurang memperhatikan permasalahan yang terjadi.
Sebagai contoh seperti yang disampaikan seorang budayawan yang juga berprofesi sebagai jurnalis.
Ia mengeluhkan tidak ada sama sekali respon dari dinas yang mengampu kebudayaan pada situasi yang mengancam beberapa kawasan cagar budaya.
Ancaman itu berasal dari semakin menggilanya kegiatan penambangan timah di beberapa kawasan perairan termasuk di hutan mangrove, pesisir dan laut.
Salah satunya adalah apa yang terjadi di kawasan laut dan pesisir Penagan di sebelah barat pulau Bangka. Kawasan ini lokasinya tidak terlalu jauh dari sebuah kawasan yang juga sangat tersohor yaitu situs Kota Kapur.
Beberapa waktu terakhir kawasan Penagan ini luluh lantak karena menjadi lokasi tambang timah padahal jaraknya hanya sepelemparan batu dari Situs Kota Kapur.
Tak pula terdengar apa yang dilakukan untuk menangani penambangan tersebut dari aparat terkait.
Media juga nampaknya mulai mengendor semangatnya pasca adanya peristiwa pelemparan cairan asam semut atau cuka para kepada seorang wartawan lokal.
Peristiwa itu cukup mengejutkan walaupun tak sampai jatuh korban.
Atau bagaimana penanganan yang terjadi pada kondisi Sungai Lenggang dan Tebat Rasau di Pulau Belitung yang sangat terganggu ekosistemnya gara-gara tambang liar.
Sungai Lenggang merupakan sungai purba terluas yang ada di Pulau Belitung yang terbentuk pada zaman Kenozoikum.
Sungai ini dipercaya terhubung dengan sungai-sungai di Kalimantan dan Sumatera Timur, hinga akhirnya mengalir ke Laut Cina Selatan pada zaman Sundaland.
Dengan kerusakan yang terjadi maka mega biodiversity Sunagi Lenggang dan Tabat Rasau yang masuk dalam Usesco Global Geopark terancam hilang dan punah.
Kalau mengamati semua pembicaraan pada acara Besari Budaya tersebut maka memang nampaknya ada simpul yang menjadi benang merah semua kejadian di atas yaitu soal dana. Seniman dan budayawan perlu dana. Para penambang juga perlu dana, apalagi para cukongnya.
Karenanya keluhan mengenai “Anggaran harap maklum” jadi perlu diperhatikan. Masalahnya siapa yang harus memperhatikan? Anda pasti tau jawabannya. Salam Takzim.
Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan & Pemerhati Budaya Babel

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.