Sadar tak sadar, terdapat wajah sosok calon pileg di spanduk kegitan.

Entah sejak kapan diskusi mingguan yang biasa bicara ngalor-ngidul perihal filosofi pendidikan atau sekadar kopi darat anggota didatangi sosok yang menawarkan janji berkembangnya komunitas ini jika para anggota sedia mengeluh-eluhkan nama dan nomor urut tertentu atas nama komunitas.

Realitanya, seperti kebanyakan negara-negara dunia berkembang lainnya, Indonesia yang tidak memiliki peta gerakan politik hitam putih yang sedikit banyak membantu masyarakat mengidentifikasikan asal muasal sebuah suara.

Beragam bendera parpol berikut beragam jenis anggotanya menyusup ke berbagai bidang yang memiliki kedekatan irisan dengan mereka.

Lagi-lagi area abu-abu ini melahirkan pertanyaan retoris di pucuk pikir: bolehkah keberpihakan politik hidup di ranah komunitas yang diharamkan memiliki keberpihakan?

Baca Juga  Bawaslu Pangkalpinang Deklrasi Pemilu Damai, Sobaria: Wujudkan Pemilu Berbahagia

Demi dapat menjawab pertanyaan ini, saya terlempar pada memori 5 tahun lalu ketika mendampingi M, rekan saya yang memiliki pengalaman unik dengan komunitas di tahun politik. Katakanlah M adalah sosok masyarakat medioker yang kebetulan memiliki idealisme tinggi.

M hanyalah anggota komunitas biasa yang betulan memiliki niat baik dalam mengembangkan literasi di kota kecil tempat ia tinggal.

Komunitas berbasis literasi tersebut telah dibentuk bertahun-tahun sebelum musim politik datang.

M mengalami disorientasi seketika menyadari bahwa komunitas yang begitu ia sayangi ternyata begitu ramah terhadap sesosok caleg yang akan berlaga di pemilihan mendatang.

Bahkan, komunitasnya secara buka-bukaan memberikan pernyataan sikap bahwa komunitas ini mendukung penuh caleg tersebut.

Baca Juga  Ironi Kaltim: Syahwat Fasilitas di Tengah Defisit Empati Kepemimpinan

Resistensi M berbuah hujanan makian bahkan lemparan botol mineral betulan dari sesama anggota komunitas yang ternyata pendukung militan caleg tersebut.

M bahkan dipaksa untuk membuat video klarifikasi dan meminta maaf secara terbuka.

Apakah M pantas mendapatkan perlakuan tersebut hanya karena ia terlalu percaya bahwa netralitas harus terus hidup di komunitas literasi yang semula terbentuk secara ‘indie’?

Katakanlah jawabannya adalah tergantung dari marwah komunitas itu sendiri untuk tetap memilih netral atau sedia menjadi alat medium kampanye politik kepada masyarakat, maka pertanyaan lainnya yang muncul adalah: “Wajah manakah yang asli dari suatu komunitas yang memiliki seperangkat visi misi tertulis dengan hakikat cita-cita mulia jika ternyata ia memiliki adendum dari saudara tiri bernama politik?”

Baca Juga  Akhir dari Sebuah Perjuangan

 

Biografi Penulis

Windy Shelia Azhar merupakan penulis lepas di berbagai medium.

Ia menulis cerpen, puisi, essai, dan opini berkutat pada isu feminisme, lingkungan, kebahasaan, dan sosial.

Pernah kuliah di jurusan Sastra Inggris dan saat ini menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi. Ia juga tergabung dalam komunitas literasi Kebun Kata yang berbasis di Bangka Belitung.

Saat ini, ia bermukim di Bali dan berkarier di bidang kreatif. Jenguk tulisannya di medium.com/@windyazhar atau bermutualan dengannya di akun Instagram @sisigelaprembulan.