Menyegarkan Kembali Makna Intelektual dalam Ranah Kampus
Revolusi negara atau industri yang banyak terjadi di beberapa negara.
Itu tidak sedikit dan hampir semua dipengaruhi oleh tokoh-tokoh intelektual dunia.
Ini menjadi coretan tinta emas di dalam sejarah peradaban dunia dewasa ini.
Salah satu tokoh yang berjasa dalam revolusi Iran yaitu, Dr.Ali Syariati menyebut bahwa, visi kaum intelektual dan nabi-nabi yang dikisahkan di dalam banyak sekali kitab-kitab agama samawi itu adalah sama.
Di mana Dr.Ali Syariati mengungkapkan bahwa “Setiap nabi adalah bagian dari kaum intelektual. Ini selaras dengan pengertian sesungguhnya dan juga dalam artian manusia tercerahkan. Mereka nyaris berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat kaum-kaum yang tertindas dan terintimidasi oleh kapitalis-kapitalis pada zamannya.”
Penulis rasa ungkapan yang disampaikan oleh Dr. Ali Syariati itu benar.
Karena dalam kenyataannya di dalam mimbar-mimbar agama, kita semua sering mendengar bahwa peran nabi-nabi adalah mengangkat harkat dan martabat kaum-kaum tertindas, bukan menjajah kaum-kaum tertindas.
Kita juga tahu bahwa setiap nabi, baik Muhammad , Musa, Isa, Ibrahim, Daud dan nabi-nabi yang lain, terlahir di dalam kelompok orang-orang yang termarjinalkan oleh penguasa zalim pada saat itu.
Nabi-nabi itu merupakan agen yang membawa sebuah perubahan pada kelompok masyarakatnya.
Tujuan mereka hanya satu, menciptakan keadilan dan keseimbangan sosial.
Inilah peran seorang intelektual sejati yang ada di dalam sebuah kampus sebenarnya.
Kampus seharusnya menjadi rumah produksi intelektual-intelektual yang membawa kepada keadilan dan keseimbangan sosial masyarakat yang termarjinalkan.
Bukan malah sebaliknya tunduk dan patuh kepada penguasa atau pemilik kebijakan dan kaum elit yang tidak bertanggung jawab.
Kampus kita dewasa ini, hanya menjadi tempat produksi budak-budak korporat yang hanya memikirkan perkara materi saja.
Substansi kampus sudah hilang, bahkan sudah menjadi alat-alat penguasa zalim untuk mengambil secara paksa harkat dan martabat kaum-kaum yang lemah.
Ini terlihat di dalam fakta sistem yang dibangun dalam kampus dewasa ini.
Sedangkan dalam tatanan yang paling tinggi dalam ilmu pengetahuan bukanlah perkara materi, akan tetapi ada pada “Moralitas” ilmu pengetahuan itu sendiri.
Akhmad Hasyim Fikri, Kader HMI Komisariat (P) Polman Babel HMI Cabang Bangka Belitung

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.