Sementara itu, Kelris Teknologi Pengolahan Bahan Baku Nuklir akan melakukan penelitian untuk pengembangan di bidang pengolahan uranium, torium dan logam tanah jarang dari berbagai jenis batuan di indonesia.

“Sejauh ini ada sekitar 89 ribuan ton uranium dan 140 ribuan ton torium yang sudah diinventarisasi potensinya di Indonesia. Bahkan, bukan sekedar uranium dan torium saja yang telah diinventarisasi melainkan LTJ atau rare earth metals termasuk didalamnya. Inilah data yang sangat penting bagi bangsa Indonesia terutama kementerian ESDM,” ungkap Syaiful.

Berbagai target PRTDBBNLR berupa Karya Tulis Ilmiah (KTI), Publikasi, Paten, dan Lisensi pada 2024, kerja sama tersebut akan dikomunikasikan dengan pusat riset lainnya yang ada di BRIN. Sedangkan untuk pendanaan berasal dari eksternal BRIN yang harus diperoleh dan dikelola.

Baca Juga  Menag: Maulid Nabi, Teladan Rasulullah tentang Persatuan dalam Keragaman

“Dengan seperti ini kita bersinergi dengan PSDMBP, mengerjakan pekerjaan bersama-sama terkait dengan inventarisasi evaluasi ini. Ada dukungan anggaran dan SDM yang hasilnya nanti akan dihilirisasi sebagai dasar penetapan WIUP dan KDI (Kompensasi Data Ilmiah) pada saat WIUP dilelangkan. Mewujudkan kesiapan data dan neraca mineral secara nasional, sebagai landasan pemerintah dalam mengambil kebijakan pengelolaan mineral di Indonesia,” sebut Syaiful.

Sebagai informasi, logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah kumpulan 17 unsur kimia. Di antaranya ada scandium, yttrium, dan golongan lantanida yang penggunaannya sangat dibutuhkan dalam pengembangan industri dan teknologi tinggi. Scandium misalnya digunakan sebagai komponen pesawat terbang dan zat aditif untuk lampu merkuri. Kemudian lantanum sebagai bahan penyusun indeks retraktif tinggi, anti bradar dan elektroda baterai. Selanjutnya, serium sebagai pemoles warna kuning pada kaca dan keramik dan unsur-unsur lainnya yang nilai ekonominya sangat tinggi.

Baca Juga  Kunjungi Kementerian ESDM, Yogi Maulana: Harga Pasir Timah Tetap Ditentukan PT Timah

Kepala PSDMBP KESDM, Agung Pribadi dalam sambutannya menyampaikan harapan jalinan kerja sama antara keduanya bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi bangsa indonesia.“Bukan hanya kepada kedua belah pihak, tapi tentunya bermanfaat untuk bangsa dan negara. Kita berharap dengan adanya PKS ini kedepannya sinergi kita terus semakin baik,” ucap Agung.

Agung mengungkapkan, menyikapi program transisi energi yang terus digalakan oleh pemerintah Indonesia, tentunya PRTDBBNLR dan PSDMBP sebagai sisi hulu yang sangat penting dalam menunjang sumber daya mineralnya. Kedua pihak terus mengembangkan bahan baku penunjang proses transisi energinya.

“Sudah tentu dalam hal ini unsur tanah jarang juga menjadi penting untuk proses transisi energi. Selain penyiapan WIUP dan WPN mineral, PSDMBP-KESDM juga merupakan wali data mineral seluruh Indonesia. Termasuk mineral radioaktif dan mineral strategis, sehingga kerja sama ini juga diharapkan menghasilkan Neraca Mineral dan Batubara. Diharapkan, Neraca Mineral yang sebelumnya belum memuat mineral radioaktif, dapat lebih lengkap sesuai dengan tugas dan amanah yang diberikan,” kata Agung.(**/infopublik.id)

Baca Juga  Pertalite Bakal Dihapus, Diganti Pertamax Green 92 pada 2024