Menurutnya, kemungkinan pada beberapa pekan ke depan akan jalan, tapi hingga saat ini belum ada kabar atau kepastian tepatnya hari apa aktivitas tersebut bejalan secara resmi.

Ia menjelaskan CV tersebut juga sudah mendapatkan verifikasi dari PT Timah dengan kuota sekitar 30 PIP, namun hingga saat ini ia belum mendapatkan kabar kalau CV tersebut sudah melakukan sosialisasi ke warga atau belum.

“Sudah ada CV yang mau garap tetapi hingga sekarang belum ada kabar akan melakukan sosialisasi, infonya sekitar 30 PIP kuotanya,” terang Ruslan.

Lebih lanjut, untuk kontribusi mereka langsung memberikan ke warga yang sakit ataupun untuk kebutuhan Desa, dan sepengetahuannya tidak ada koordinatornya di lapangan serta berapa penghasilannya juga tidak tahu.

Baca Juga  Kali Ini Komisaris dan Pegawai PT RBT Diperiksa Penyidik Kejaksaan Agung

“Kalau di awal kegiatan memang pihak desa sempat menerima konpensasi dari penambang tetapi semenjak diperiksa kita tidak berani lagi, padahal konpensasi tersebut untuk kegiatan sosial di Desa,” sebutnya.

Penjualan hasil timah ini juga dibeli oleh para kolektor timah di Desa Rajik maupun dari luar Desa, karena memang rata – rata pemilik ponton ini berutang dulu untuk membuat ponton, jadi wajar saja menjual ke kolektor yang menghutangi nya.

“Wajar-wajar saja kalau penambang jual hasil biji timahnya kepada kolektor yang ada di desa maupun di luar desa, karena mereka bikin ponton PIP berutang terlebih dahulu kepada bos-bos pembeli biji timah, jadi mau gimana lagi,” sebutnya.

Baca Juga  Kapolres Basel Mendadak Turun dari Mobil Dinas, Ternyata Bantu Anak SD Seberangi Jalan