Rika menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya. Aih… Sepertinya Rika lupa, siapa yang ada di hadapannya saat ini.

Gadis itu adalah Vina, Vina tukang bully yang setiap harinya menggangu ketenangan hidup Rika. Sehari saja tak mengusik, hidupnya terasa hampa. Tapi lagi Rika tak semudah itu untuk takut dan tunduk di bawah kaki Vina.

Sebuah prinsip sederhana yang coba di pertahankan, walau terkadang bisa goyah jika sudah terlalu takut “Kita boleh miskin harta, tapi enggak dengan miskin harga diri!”

Mendapat penolakan yang dilontarkan Rika.

Brak.

Suara meja yang digebrak kuat oleh Vina menarik atensi siswa-siswi yang masih berada di kelas.

“Lo Tuli?” “Gua Gak Nerima Penolakan. Cepet ke Kantina tau Lo terima akbiatnya.”

Suara teriak lagi-lagi terdengar, tak ada yang mencoba menghampiri untuk menenangkan. Entah alasan takut atau memang tidak peduli.

Yang jelas itu bukan masalah yang berat bagi rika, sudah biasa mandiri, berasa di atas kakinya sendiri dalam menghadapi situasi sulit seperti saat ini.

Teriakan marah Vina tak di pedulikan Rika. Berusaha menulikan pendengarannya, dan tetap fokus ke buku di meja. “Oke” dengan gerakan mata, para antek-antek Vina mulai menghampiri Rika.

Merampas tas Rika dan membanting meja yang terdapat buku Rika, dan menarik kasar tangan Rika, membuat Rika tersungkur di bawah lantai.

Tak Samapi di sana salah seorang antek Rika mengambil bekal yang berada di tas dan menumpahkannya di atas kepala rika mengenai hijab putih yang di kenakan rika dan menuangkan air bercampur tanah dan sampah, berhasil membuat pandangan memburam, aroma bau yang menyengat menyeruak keluar dari tubuhnya.

Baca Juga  Balai Damai

Sesuatu memberontak keluar dari dalam mata rika, ingin segera ditumpahkan. Rasa marah, kecewa, malu dan sedih bercampur menjadi satu. Tetapi semua itu hanya dapat di pendam.

Tak ada tindakan lebih yang bisa di perbuat Rika selain diam, menerima segala perlakukan buruk dari Vina dan teman-teman cewek itu.

“Buk, dia jahat.. hiks” sejak kejadian tadi. Setelah berhasil keluar dari kerumunan yang mengerubungi dirinya, menyudutkannya. Berjalan lunglai, tak tentu arah, langkah tak pasti itu membawa Rika ke sini.

Tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya. Tempat yang sekarang sudah menjadi, tempat ternyaman setelah rumah yang menjadi tempat berteduh.

Kedua gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput rapih, tempanya membagi cerita, keluh kesah, dan pelarian setiap kali merasa diasingkan, dikucilkan, dipermalukan, dilukai dan segala perlakuan buruk, ini dia tempat pelarian terbaik.

Bagi sebagian orang. Tempat ini menyeramkan jika di kunjungi sendiri, tapi bagi seorang anak yang mengalami nasib sama seperti Rika, tempat ini tak terlihat mengerikan lagi, rasa seram di dalamnya lenyap di telan rindu mendalam.

“Bu.. Vina, gadis yang pernah Rika cerita kan kepada Ibu. Sebelum kematian merenggut Ibu dan Bapak. Dia ngusik Rika lagi Bu. Kemarin Rika masih bisa bertahan karena masih ada Ibu dan Bapak di samping Rika. Sekarang Rika sendiri Bu. Gak ada yang bisa jadi tameng penolong terbaik, yang bisa setia menjaga Rika.”

Rika mulai bercerita. Air mata tak henti berlinang.

“Cewek miskin dan yatim piatu kayak Lo gak pantes di sini. Lo lebih cocok di dalam tanah bareng kedua orang tua pemulung Lo itu!”

Baca Juga  Pantun Kemerdekaan

Ingatan Rika berputar pada kejadian 1 jam lalu, kalimat menohok yang dilontarkan Vina, mengisi kepalanya, bagai kaset rusak.

“Rika… Masih bisa terima kalau yang dihina cuma Rika. Tapi Rika gak terima kalau Bapak dan Ibu juga harus kena imbasnya. Dan Rika gak bisa ngelakuin apapun, selain diam,” Rika mengaduh menyampaikan rasa marah yang sedari tadi dipendam.

“Bu, Pak kenapa begitu cepat? 15 tahun itu singkat Bu, usia itu, usia remaja Rika, di mana masa-masa Rika sangat membutuhkan peran Ibu dan Bapak. Kenapa malah pergi? Ibu dan Bapak gak sayang Rika lagi ya?” Isak tangis menghiasi kalimat panjang yang Rika ucapkan.

“Satu bulan terakhir. Ibu dan Bapak gak pernah berkunjung ke mimpi Rika lagi. Ibu, Bapak gak kangen Rika? Pulang…. Rika butuh kalian. Dunia jahat buk. Berat buat ikhlasin kalian. Kemarin Rika bilang kuat . Tapi saat berkunjung ke rumah baru kalian ini. Rasa rindu mengguncang dada Bu,” Rika menangis seorang diri.

“Rika kangen dimasakin Ibu, Rika kangen diantar bapak ke sekolah. Rika kangen denger ocehan Ibu, Rika kangen main bareng sama Bapak. Rika rindu… Pulang Bu, Pak rumah sepi. Rika takut …. Ayuk pulang,” Rika menangis kencang, meraung.

“Rika trauma dengan hari lahir rika sendiri. Sakit Bu. Kalian boleh hukum Rika sepuasnya tapi enggak dengan hukuman ini. Ini terlalu berat,” puas menangis dan bercerita.

Rika mulai beranjak berdiri, pulang, mengingat hari mulai memasuki gelap.

Baca Juga  Nyanyian Pelipur Lara

Seorang gadis berusia 25 tahun dengan wajah cantik, serta pakai elegant yang dipadukan simple namun siapa saja bisa mencium wangi uang dari gaya glamor nan sederhananya.

Matanya menatap lurus kearah gedung pencakar langit, berlantai 30, dari bawah hingga atas. Perusahan yang baru saja dibangun di tengah kota dengan gaya modern itu milik sang gadis.

Melewati pahitnya perjalanan hidup, hingga di titik ini tentunya tak mudah. Berjuang sejak usia 15 tahun ditinggal kepergian kedua orang tuanya menghadap sang maha kuasa, adalah pelajaran hidup yang tak akan terlupakan.

Kini janji dan mimpi yang diinginkan ibu dan bapak telah terwujud.

Rika berhasil menjadi pengusaha terkenal, yang sukses di usia yang masih terbilang muda. Puas memandang bangunan kokoh hasil jerih payah dan keringatnya.

Rika memejamkan mata, kemudian menatap langit. Seolah di atas sana, ada ibu dan  bapak yang menatap kearah nya sambil tersenyum.

“Buk, Pak. Rika berhasil. Ibu dan Bapak bangga kan sama Rika? Rika berhasil buk, Rika berhasil wujudin mimpi Ibu dan Bapak jadi orang sukses pemilik gedung tinggi,” matanya memerah menahan tangis, entah kenapa.

Rika tersenyum tipis. Berbalik melangkah sambil berujar “ini milik Rika. Dan Rika berharap Ibu dan Bapak melihat pencapaian ini. Rika masih rindu segala hal tentang kalian. Sedih rasanya tak ada kalian menemani rika di sini. Menikmati jerih Rika. Yang tenang di sana ya Bu, Pak, Rika pasti akan selalu mendoakan.”

Maria Saraeng Putri, Siswi SMAN 1 Payung