Timelines.id

Media Literasi, Sejarah & Budaya

Minggu, 14 Juni 2026

#Pekan Sastra

Cinta Tidak Berpihak

Cinta Tidak Berpihak

Oleh: Indra Pirmana Aku tatap wajahmu penuh dusta, mulut manismu membalas kata cinta, hati busukmu
Satu Pintu Menuju Dunia

Satu Pintu Menuju Dunia

Oleh: Fhyiona Vlorensya  “Kalau terus begini, lebih baik Hikuk Helawang kita hentikan saja
Riuh Seng Karat

Riuh Seng Karat

Oleh: Azza Lestari Seng karat itu bernyanyi lagi malam ini, suaranya pecah resah seperti kenangan
Realita yang Bukan Realita

Realita yang Bukan Realita

Oleh: Ummi Sulis Realita kita ini negara berkembang dengan realita kembang telah berbiji, biji
Hampa Usa Ditembung

Hampa Usa Ditembung

Pantun Menjaga Lingkungan (Bagian V) Karya: Sang Usang Nyerupe Anak Bawang Sang Usang: ”Men
Aroma Jogja 1994

Aroma Jogja 1994

Oleh: Sang Peramu Aksara (Agus Bachtiar K) Angan ini melenting jauh, tetiba rindu pada tanahmu.
Di Ambang Batas Kehancuran

Di Ambang Batas Kehancuran

Oleh: Kaum Pecinta Damai Lentera negeri kian meredup pasrah, Di atas altar pusaka yang mulai pecah.
Yuk, Mari!

Yuk, Mari!

Oleh: Indra
Sebelum Malam Menutup Kegelisahan

Sebelum Malam Menutup Kegelisahan

Oleh: Hening Cahaya Apakah kita masih saling kenal? Tanyakanlah pada malam, apakah rembulan masih
Di Balik Warna-warni Dunia Mainan

Di Balik Warna-warni Dunia Mainan

Karya: Yanto in Action Di bawah langit biru berawan lembut, berdiri kayu dengan senyum tak berubah,
19 Ribu Saset per Hari

19 Ribu Saset per Hari

Oleh: Sang Peramu Aksara (Agus Bahctiar K) ​Hantaran katamu manis… Menyenangkan, dan
Makan Siang Dijarah

Makan Siang yang Dijarah

Oleh: Kaum Pecinta Damai Awalnya adalah janji dalam piring berhias, Tentang gizi yang tumbuh,
Pacak Karne Berse

Pacak Karne Berse

Pantun Menjaga Lingkungan (Bagian IV): Karya: Sang Usang Nyerupe Anak Bawang Sang Usang: ”Batang
Taqwa Melunglai

Taqwa Melunglai

Oleh: Yudha Adinata Dulu pernah menyesap harap Pada debar yang beriringan deburan Melodinya kini
Program Makan Bergizi Gratis riuh digemakan, Katanya demi masa depan, demi gizi anak sekolahan. Tapi di dapur warga, asap kian sulit dikepulkan, Kami dipaksa menelan janji yang diracik di atas meja,

Tuan! Uang Itu dari Pajak Kami, Bukan Keringat Nenek Moyangmu

Oleh: Kaum Pecinta Damai Program makanan gratis itu riuh digemakan, Katanya demi masa depan, demi
Sudah ditampilkan semua