Karya: Nazira — Siswa SMAN 3 Toboali

Aku sering melihat kebahagiaan mereka. Teman-temanku pulang dengan wajah berseri, bercerita tentang keberhasilan yang mereka raih. Di mata orang tua mereka, kulihat kebahagiaan bersinar terang.

Di sudut hatinya yang paling dalam, keinginan itu tumbuh perlahan namun tak pernah pudar. Aluna pun ingin begitu. Ia ingin melihat senyuman itu di wajah ayah dan ibunya. Ia ingin menjadi alasan di balik kebahagiaan mereka, dua orang yang telah bersusah payah menghidupkan dan membesarkannya dengan segala pengorbanan yang tak pernah terbalaskan. Aluna tak ingin mengecewakan mereka. Tak ingin sekalipun.

Namun, setiap kali ia mencoba melangkah, suara-suara itu selalu datang.

“Kamu? Mana mungkin bisa.”

“Pasti dia tahu diri juga. Nilainya biasa saja, mana berani bermimpi terlalu tinggi.”

“Sudah, sudah. Percuma saja, kamu pasti gagal lagi.”

Kata-kata itu menancap tajam. Mereka begitu yakin Aluna tidak akan mampu, seolah mereka sudah tahu hasilnya sebelum Aluna selesai berjuang. Mereka selalu mengatakan bahwa Aluna akan gagal dalam hal apa pun.

Setiap malam, Aluna meringkuk dalam pelukan yang membungkam dunia. Ia memeluk jiwa raga kecilnya, menangis tanpa suara, tanpa bisa bilang bahwa dia juga lelah. Rasa lelah itu nyata, namun ia telan sendirian dalam sunyinya kegelapan. Ia tidak ingin ada yang tahu seberapa berat perjuangannya, tak ingin ada yang melihat betapa rapuhnya ia di balik semangat yang selalu ia tunjukkan.

Di tengah malam yang sunyi, di saat dunia terlelap dalam gelap gulita, lampu di meja belajar Aluna masih menyala terang. Ia membaca dan mencatat di sebuah buku. Dia berjuang bukan sekadar untuk nilai, tetapi untuk membayar setiap kata hinaan mereka dengan keberhasilan yang nyata.

Meski begitu, Aluna harus melawan riuhnya isi kepalanya sendiri. Bayangan kegagalan yang selalu datang menghantui dari sudut gelap pikiran.

Bagaimana kalau aku sudah mencoba dan tetap gagal? Bagaimana kalau mereka benar bahwa aku akan terus gagal?

Rasa takut itu terus menghantui, membuat Aluna sempat ingin berhenti di sini saja karena takut untuk mencoba lagi. Namun, di tengah gelapnya malam, satu kebenaran sederhana selalu kembali berbisik: Jika aku tidak berani mencoba, maka aku akan terus gagal.

“Tapi katakan padaku, siapa yang sungguh-sungguh ingin gagal? Siapa yang bangun pagi dengan harapan hari ini ia akan kalah? Tidak ada. Aku pun ingin berhasil,” bisik Aluna dengan rasa takut yang masih menggelayuti raganya.

Hari pengumuman akhirnya tiba. Di sekolah, semua murid berkumpul menatap papan pengumuman, menunggu nama-nama yang akan dipanggil. Di saat itulah, suara-suara cemoohan itu kembali datang, bahkan lebih keras dari sebelumnya.

“Kamu akan gagal. Kamu tidak akan pernah bisa berdiri di sana,” ujar salah satu siswa.

Tawa mereka terdengar samar, namun begitu menusuk. Candaan yang seolah biasa bagi mereka, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk bagi Aluna. Mereka menertawakannya, yakin sepenuhnya bahwa Aluna tidak akan pernah berdiri di panggung itu.

Namun detik berikutnya, suara pengumuman menggema di seluruh ruangan.

“Dan nilai tertinggi sekaligus siswi terbaik jatuh kepada… Aluna!”

Nama Aluna dipanggil.

Ia berjalan ke depan bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk membuktikan satu hal. Ia berdiri tegak memegang penghargaan, menatap satu per satu wajah mereka yang dulu meremehkannya. Aluna telah membayar tuntas semua omongan, cacian, dan candaan mereka dengan keberhasilan yang nyata. Tawa dan canda mereka seketika lenyap, berubah menjadi keheningan karena tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Di atas panggung itu, Aluna memeluk ayah dan ibunya, dua raga yang selama ini setia menemani prosesnya, yang tak pernah lelah meyakinkannya bahwa terus berusaha adalah esensi dari keberhasilan yang nyata.

– TAMAT –

Pesan Penulis: Jadikanlah kegagalan sebagai pelajaran terbaik. Bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk bangkit lebih kuat. Jangan pernah menyerah pada hal apa pun. Karena di balik setiap malam yang panjang, di balik setiap tetes air mata, ada keberhasilan yang sedang menunggu bagi siapa saja yang tak pernah lelah berusaha.