Di Balik Lubang Besar
Karya: Syabaharza
Dua pasang mata terus mengamati sebuah lubang besar. Lubang besar berada di antara sela-sela batu besar. Lubang besar itu banyak menyimpan misteri. Banyak cerita yang terjadi di balik lubang itu. Namun kebanyakan cerita seram yang diciptakannya. Sudah berpuluh tahun penghuni di situ mengetahui tentang cerita-cerita seram, namun tak satu pun yang berani untuk menyibak misteri itu.
Cerita tentang hilangnya kepala keluarga mereka setelah melewati lubang itu seakan sudah menjadi santapan sehari-hari. Bagai melepas anggota keluarga ke medan perang, mereka selalu pasrah dan berdoa jika memang terpaksa anggota keluarga lewat dari lubang itu.
Memang ada beberapa yang bisa kembali setelah melewati lubang itu, tapi dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sekujur tubuhnya penuh luka. Anehnya setiap yang bisa kembali pasti memiliki luka di bibirnya. Mulai dari luka kecil sampai hampir kehilangan bibir. Fenomena itu pun seakan sudah biasa bagi mereka dan tidak membuat mereka jera untuk kembali melewati lubang itu. Lebih tepatnya adalah hanya di balik lubang itulah terdapat makanan untuk keluarga. Di dekat tempat tinggal mereka sudah tidak ada makanan yang bisa didapatkan. Semua sudah hancur dihantam oleh benda bulat dari besi yang memiliki kuku. Sehingga para kepala keluarga itu tetap berjuang walau nyawa menjadi taruhannya.
Sudah tidak terhitung lagi jumlah kepala keluarga yang hilang tanpa kabar. Bahkan bangkainya pun tidak bisa ditemukan. Sekarang hanya anak-anak yatim dan janda-janda yang menghuni daerah itu. Mereka hanya mengandalkan makanan seadanya yang didapat di sekitar tempat tinggal. Atau jika nasib baik mereka mendapatkan makanan kiriman dari sisa-sisa pesta. Jika tidak mendapatkan makanan, maka dengan terpaksa mereka akan berpuasa.
Masih beruntung bagi yang mempunyai keluarga, terkadang ada yang sebatang kara. Karena seluruh keluarganya sudah tidak ada. Ratapan pilu hampir setiap jam terdengar dari hunian itu. Ratapan yang mengharapkan semua itu segera berakhir. Ratapan yang mengiba kepada sang pencipta agar segera memberikan pertolongan. Ratapan yang mereka sendiri tidak tahu kapan akan berakhir.
“Kita harus ke sana”
Di kedalaman sungai yang mulai kotor. Seekor lele remaja dengan enam helai kumis berbicara sambil mondar-mandir di depan kedua temannya.
“Ke sana?”
Kedua temannya kompak menjawab dengan nada bertanya. Tampak raut muka mereka seperti sangat ketakutan.
“Memang kamu berani?”
Pertanyaan selanjutnya keluar tanpa menunggu jawaban pertanyaan pertama.
“Satu minggu yang lalu kakekku yang tidak kembali, kemarin ayahku menyusul”
Lele remaja itu terlihat sangat sedih. Ia tidak menjawab pertanyaan temannya.
“Aku jadi penasaran, ada apa di balik lubang besar itu”
Ekspresi lele remaja itu berubah drastis. Sekarang wajahnya menampakkan suatu semangat seperti pejuang yang siap untuk bertempur. Aliran air sungai yang cukup deras membuat kumisnya bergetar.
Lele remaja itu ingat betul saat-saat kakeknya pergi dan tidak kembali. Waktu di hunian mereka persediaan makanan sudah menipis. Hal itu lah yang membuat sang kakek memberanikan diri untuk mencari makanan. Tentu saja sang kakek tahu betul resiko yang akan didapatnya. Kembali dengan luka-luka atau hilang tanpa kabar. Rasa takut itu pasti ada, namun karena keadaan, makai a harus melawan rasa takut itu.
Akhirnya sang kakek berangkat dilepas oleh kesedihan anggota keluarga. Ayah lele remaja sebenarnya ingin ikut menemani sang kakek. Tapi sang kakek melarangnya. Alasan sang kakek jika ia tidak kembali masih ada yang bisa mencari nafkah.
Malam tiba, tapi sang kakek belum juga kembali. Seluruh anggota keluarga lele remaja sudah mulai pasrah, bahwa akan kehilangan satu lagi anggota keluarga. Dan benar saja, sampai waktu pagi sang kakek tak kunjung pulang. Satu minggu pasca sang kakek tidak kembali, ayah lele remaja memberanikan diri untuk mencari nafkah di balik lubang besar itu. Ia harus memberanikan diri karena di tempat tinggal mereka stok panganan sudah hampir habis. Ia berpikir lebih baik menderita daripada melihat keluarganya kelaparan.
Sebenarnya lele remaja dan keluarga yang lain sudah mencoba menghentikannya, namun karena kegigihan sang ayah, dengan berat hati mereka melepaskan sang ayah. Mereka masih trauma dengan kehilangan sang kakek. Mereka tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Sudah cukup bagi mereka kehilangan kakek tercinta. Jika boleh memilih, lebih baik mereka kelaparan dari pada harus kehilangan sang ayah. Jika akan mati, mereka lebih memilih mati secara bersama-sama tapi di tempat yang sama. Hunian mereka.
