“Besok pagi aku akan ke sana”
Lele remaja sudah membulatkan tekad untuk pergi ke lubang besar itu.
“Kalian mau ikut silakan, tidak juga tidak apa-apa”
Kedua temannya menjadi serba salah. Mau ikut tapi mereka takut, tidak ikut nanti dikatakan tidak setia kawan.
“Aku ingin tahu apa yang menyebabkan keluarga kita tidak kembali”
Semangat lele remaja sangat terlihat. Tidak tampak sedikit pun rasa takut. Tampaknya ia sudah siap jika memang tidak kembali lagi ke keluarganya.
“Aku sebenarnya mau ikut denganmu, tapi…….”
Salah satu temannya masih ragu dan belum bisa memberikan keputusan. Sementara teman yang satunya hanya bisa diam. Kumis mereka kembali bergoyang dielus air sungai.
“Ya sudah, kalau kalian tidak ikut, tetap di sini saja”
“Tapi jangan beritahu ibuku, ya”

Kedua temannya bertambah bimbang. Di satu sisi mereka ingin mendukung keberanian lele remaja, namun di sisi lain mereka tidak ingin berbohong. Pagi-pagi sekali lele remaja sudah berpamitan dengan ibunya. Ia tidak memberitahu kemana perginya.

Ketika ibunya bertanya ia hanya memberitahu untuk menemui temannya. Sang ibu tidak curiga sedikit pun. Saat pergi ia memang berenang ke arah hunian temannya, tetapi setelah agak jauh dan dipastikan ibunya tidak memperhatikannya lagi, ia pun merubah arah berenangnya. Dengan cepat ia berenang menuju lubang besar itu.

Sementara salah satu temannya bercerita kepada ayahnya, bahwa lele remaja hendak pergi ke lubang besar itu. Mendengar itu ayah temannya itu sangat kaget.
“Berani sekali ia ke sana”
“Ayo kita cegah”
Dengan kepanikan yang sangat, ayah temannya itu pergi menyusul lele remaja. Temannya juga mengikuti dengan panik yang luar biasa.
“Ayah dulu hampir tidak bisa kembali”
Sambil berenang dengan cepat, ayah teman lele remaja bercerita tentang pengalamannya berada di balik lubang besar itu.
Ayah teman lele remaja itu adalah salah satu dari segelintir lele yang bisa kembali setelah mendatangi lubang besar itu. Tapi ia harus menanggung cacat seumur hidup, karena mulutnya sudah robek sebelah.
“Kalau kita bisa menembus lubang itu, maka banyak sekali godaan di depan kita”
Ayah teman lele remaja terus bercerita sambil tetap berenang dengan cepat ke arah lubang besar. Teman lele remaja hanya mendengarkan sambil terus mengikuti sang ayah.
“Nanti banyak makanan favorit kita”
“Apa itu yah?”
Kali ini teman lele remaja penasaran, sehingga ia memberanikan diri bertanya.
“Cacing”
Mendengar kata cacing, teman lele remaja langsung membayangkan betapa nikmatnya makanan itu. Sudah lama ia tidak mendapatkan makanan itu.
“Justru itulah malapetakanya”
Teman lele remaja terkejut, di sisi lain ia kagum kepada ayahnya karena bisa membaca pikirannya.
“Cacing itu sudah dikaitkan dengan sebuah besi kecil yang melengkung”
“Kalau kita memakannya, maka saat itulah kita tidak akan kembali lagi”
Ayah teman lele remaja terus menjelaskan penyebab anggota keluarga mereka tidak kembali lagi setelah melewati lubang besar itu.

Baca Juga  Kekalahan Kapoer dan Misteri Kematian Dupang

Dengan kecepatan penuh lele remaja sudah sampai di lubang besar itu. Dengan berhati-hati ia mengamati sekelilingnya. Ia harus memastikan tidak ada sesuatu yang mengancam keselamatan. Sampai beberapa detik ia tidak mendapati sesuatu yang mencurigakan dan membahayakan dirinya. Ia pun memberanikan diri untuk melewati lubang besar itu.

Setelah ia berhasil melewati lubang besar itu, ia dibuat takjub dengan pemandangan di depannya. Di sekelilingnya terlihat makanan favorit mereka. Makanan itu terlihat masih segar. Makanan itu seolah menggoda untuk disantap. Makanan itu seperti menari-nari. Karena sudah lama tidak menjumpai makanan seperti itu, lele remaja tanpa pikir panjang lagi mendekati salah satu cacing itu. Ia memilih cacing yang paling besar.

Baca Juga  Haikal dan Buku Tua Pengantar Masa Depan

Di sudut yang lain dari lubang itu dua pasang mata mengawasi lele remaja. Mereka adalah teman lele remaja dan ayahnya. Melihat tingkah lele remaja, temannya ingin berteriak untung melarang lele remaja, tetapi ia sudah terlambat. Lele remaja sudah dibuai dengan makanan enak di depannya. Sehingga walau dengan sekuat tenaga ia berteriak tidak akan didengar oleh lele remaja ditambah dengan derasnya arus sungai di dekat lubang besar itu menambah teriakan teman lele remaja sia-sia.

Lele remaja berhasil menelan salah satu cacing besar. Tampak ia sangat bahagia karena berhasil mendapatkan makanan enak. Ia berpikir akan membawakan sebagian cacing itu untuk ibunya, tetapi ia akan menikmati dulu cacing yang didapatnya. Dengan senang ia membawa cacing di mulutnya berenang ke sana kemari. Nikmat betul ia rasakan. Namun beberapa detik berikutnya ia merasakan ada sesuatu yang menarik mulutnya.

Baca Juga  Ikhlas di Atas Luka

Kuatnya tarikan itu membuat tubuhnya juga ikut tertarik. Lele remaja berusaha untuk melawan, namun tarikan itu semakin kuat. Ia merasakan tarikan itu berasal dari cacing yang ada di mulutnya. Ia berusaha melepaskan cacing itu, namun sia-sia. Bahkan sekarang ia merasakan benda tajam sudah menusuk mulutnya. Dan dalam hitungan detik lele remaja sudah terangkat keluar dari air sungai itu.

Di dalam sungai teman lele remaja dan ayahnya hanya bisa bersedih menyaksikan peristiwa itu. Mereka sedikit menyesal karena terlambat memberitahu. Teman lele remaja lebih menyesal lagi, kenapa tidak dari awal ia menceritakan keinginan lele remaja kepada ayahnya. Mungkin kalau dari awal diceritakan, lele remaja bisa diselamatkan. Tapi semua sudah terjadi. Teman lele remaja dan ayahnya beranjak untuk kembali ke hunian mereka. Dalam perjalanan, mereka mendengar sayup-sayup suara tawa yang sangat girang dari atas sungai.

BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]