Paranoid (1)
Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat
Hujan lebat mengguyur pusat kota di malam hari. Suara tetesan hujan memenuhi setiap sudut kota, udara menjadi sangat sejuk. Suasana itu menenangkan mereka yang sedang gundah gulana. Tak hanya itu, keadaan yang sepi entah bagaimana mendukung suasana sendu di malam yang hujan. Orang-orang akan berdiam diri di rumah mereka, tidur dengan tenang atau justru merenungkan banyak hal sembari menatap hujan lewat jendela.
Hanya saja hari itu bukan hari yang paling menguntungkan bagi Emilia. Dia sedang duduk di halte bus malam itu sambil membalas pesan dari teman sekamarnya. Menunggu bus langganannya tiba.
“Sarah, aku pulang terlambat hari ini. Tidurlah duluan malam ini, tidak perlu menungguku.”
“Oh baiklah, jangan pulang terlalu larut.”
Sesaat setelah mengirim pesan, bus yang ditunggunya akhirnya tiba. Emilia berjalan wajah lesu, bertatap muka dengan sopir yang memandanginya dengan tatapan prihatin. Emilia tidak menyalahkannya, memang harinya di universitas tidaklah berjalan mulus hari ini. Emilia gagal dalam sidang skripsinya hari ini.
Saat Emilia masuk, hanya ada seorang penumpang laki-laki di sana. Pria itu berpakaian serba hitam, tudung jaketnya hampir menutupi seluruh wajahnya, dan Emilia duduk berseberangan dengan pria itu. Melihat pria itu sibuk dengan ponselnya, Emilia ikut memainkan ponselnya. Tanpa dia sadari, pria itu sesekali meliriknya.
Bus pun tiba di pemberhentian berikutnya sekitar 20 menit kemudian, tempat Emilia turun dari bus. Emilia memperhatikan pria di seberangnya, dia sama sekali tidak terlihat akan turun dari bus. Setelah itu, Emilia segera membayar ongkos bus bulanan yang kebetulan harus dibayar hari itu. Sang sopir justru melakukan sesuatu yang tidak terduga.
“Bayar saja setengahnya,” ujar sang Sopir.
“Lho, kenapa, pak?”
“Tabung saja buat bayar kuliahmu.”
Emilia diam sejenak mendengar hal itu. Sopir tua di hadapannya sudah seperti ayah kedua baginya, Emilia sering berbicara tentang kehidupan kampus dengannya. Tak heran mengapa sopir itu tahu sesuati yang salah telah terjadi pada Emilia. Emilia memutuskan berterima kasih sebesar-besarnya padanya, kemudian turun dan berjalan memasuki gang masuk tempat kos-nya.
Hujan tidak lagi turun, hanya rintik-rintik kecil hujan yang berjatuhan. Dengan lesu ia menggendong tasnya, tanpa memperhatikan sekitar lagi, dia menyeberangi jalan yang kebetulan sedang sepi menuju gang. Pikirannya dipenuhi pikiran-pikiran putus asa yang membuatkannya tidak bisa berpikir jernih lagi, yang terburuk adalah bagaimana memberitahukannya pada orang tuanya di kampung.
Emilia melepas sepatunya sambil mengintip dari balik jendela. Seluruh ruangan sudah gelap dan tampaknya kosong, sepertinya ibu kos sudah tertidur, hanya itu yang perlu diketahui Emilia. Emilia membuka pintu tanpa suara, lalu dengan hati-hati menyalakan lampu ruang tengah.
Namun, saat lampu dinyalakan, sosok Bu Ratna, ibu kosnya, dengan wajah masam dan sebatang tembakau di sela jarinya muncul. Dia duduk di atas bangku meja makan di sebelah kiri pintu masuk. Dalam hati, Emilia mengumpat dari dalam, mempertanyakan kenapa dia terus tertipu beberapa kali oleh trik yang sama.
“Dari mana saja kamu?! Ini pasti baru pulang dugem ya!”
“Aku gagal sidang, bu.”
Mendengar itu, ibu kos paruh baya itu langsung terdiam. Situasi tiba-tiba menjadi sangat canggung dan Emilia membencinya. Dia mendengar Bu Ratna membersihkan tenggorokannya yang tercekat sebelum memerintahkannya, “Masuk ke kamarmu.”
Tidak ingin berdebat, segera Emilia berjalan pergi. Dari jauh Bu Ratna berteriak padanya dari kejauhan, “Jangan lupa bayar duit kos!”
Emilia menghela napas pelan sebelum dengan hati-hati membuka pintu kamarnya dengan Sarah. Dia jelas tidak ingin membangunkan teman sekamarnya itu. Namun, tidak sesuai ekspektasi Emilia, Sarah justru masih terjaga di atas kasurnya. Sarah menatapnya dengan tatapan aneh.
“Lho, Sarah? Belum tidur? Kan tadi aku suruh kamu tidur duluan.”

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.