Karya: Khoiriah Apriza

Novela namanya. Gadis sederhana yang tinggal bersama dengan ibu tirinya dan saudari tirinya. Mungkin, Kisah Novela sedikit sama dengan kisah putri yang terkenal bergaun biru dan memiliki sepatu kaca. Iya, Cinderella.

Novela memang diperlakukan bak seorang pembantu di rumahnya sendiri. Ibunya meninggal setelah melahirkan nya. Kemudian, sang ayah menikah dengan sahabat ibunya. Beberapa tahun kemarin, ayahnya meninggal karena serangan jantung.

Miris itulah kehidupannya. Ia bagaikan seekor burung yang terkurung di dalam sangkar. ingin bebas, namun terkunci. Bolehkah Novela berharap bahwa kisah hidupnya berakhir sama dengan Cinderella? Tokoh gadis desa sederhana, namun mampu membuat seorang pangeran jatuh cinta.

“Novela-Novela, Mana ada pangeran yang mau bersamamu. Kalau pun ada, Hanya sekadar mimpi,” ujar Novela sambil menggelengkan kepalanya pelan. Saat ini, ia sedang mencuci pakaian ibu dan saudarinya, Sandra.

Setelah selesai mencuci pakaian, Novela segera menjemur nya di samping rumah. Ia mengelap keringat yang membasahi keningnya.

Setelah selesai berurusan dengan pakaian, Novela segera memasuki kamarnya yang berukuran 2 × 3. Tempat ternyaman yang ia miliki. Novela bersyukur, Walaupun diperlakukan bagaikan seorang pembantu, Ibu tirinya masih memberikan ia kamar. Walaupun, memang kamar yang lebih kecil dibandingkan kamarnya dulu. Lalu siapa yang menggunakan kamarnya dulu? Siapa lagi kalau bukan Sandra, Saudari tirinya.

Baca Juga  Jiwa Mereka yang Tersesat

Novela mendekati jendela kamarnya. Menghirup udara segar yang mampu membuat pikirannya tenang, Walaupun sejenak.

“Ngapain Woy! Semedi?” teriak seorang lelaki dari seberang rumahnya.

Novela memutar bola matanya malas, Lagi-lagi Khafi merusak kebahagiaannya. Tetangga paling menyebalkan yang Novela miliki.

“Iya semedi, sambil mikir kekuatan apa yang mampu buat Lo pergi dari hadapan Gue,” ketus Novela. Memang, sudah tak asing lagi pertengkaran antara Novela dan Khafi.

Mereka memang bersahabat sejak kecil, tetapi juga sering bertengkar saat usia mereka menginjak remaja.

“Yakin buat gue pergi dari hadapan Lo? Nanti Kangen?” ejek Khafi sambil menggoda Novela.

“Idih, enggak mungkin lah,” ujar Novela sambil memutar bola matanya malas.

“Novela! Cepat kamu beli sayuran ke pasar!” teriak Nanda, Ibu tirinya.

Baca Juga  Sepasang Netra dalam Sangkar

“Fi, gue pergi dulu ya. Nyokap suruh ke pasar,” pamit Novela.

“Nyokap? Bukanya nyokap Lo udah meninggal? Oh, Pasti Mak lampir yang suruh Lo, Iya kan?” ujar Khafi dibalas peloton tajam dari Novela.

“Hehe bercanda,” kekeh Khafi.

Novela tak menghiraukan perkataan Khafi, ia segera menemui ibu tirinya. Kalau tidak, pasti ia akan dipukul lagi.

Plak!

Baru saja Novela membuka pintu kamarnya. Sudah mendapatkan hadiah berupa tamparan keras dari Ibunya.

“Lama banget sih! Cepetan ke pasar!” ujar Nanda kesal.

“Uangnya Bu?” pinta Novela sambil mengulurkan tangannya.

“Pakai uang kamu lah!” Ujar Nanda dengan nada angkuh.

“Aku enggak punya uang Bu, aku kan belum kerja,” ujar Novela pelan.

“Huh, Makannya cari kerja! Bisanya cuma nyusahin orang tua aja! Nih uangnya sama daftar belanjaan! Awas aja kalau sampai jam sembilan belum sampai rumah!” ancam Nanda, ia memberikan uang sebesar dua ratus ribu, dilemparkan ke wajah Novela, lalu ia pergi begitu saja.

“Dasar Mak lampir!” gerutu Novela pelan.

Baca Juga  Ikhlas di Atas Luka

Saat di perjalanan menuju pasar, tiba-tiba ada Khafi di belakangnya yang menaiki sepeda.

“Neng, Ayo dibonceng abang, gratis kok. Asalkan Neng mau jadi istri abang,” ujar Khafi sambil terkekeh geli.

“Idih, mending jalan kaki dah gue dari pada jadi istri Lo,” ujar Novela.

“Yakin enggak mau? Nanti nangis liat abang nikah sama perempuan lain?” goda Khafi, Ia turun dari sepeda dan menuntunnya mengikuti Novela.

“Yang ada gue seneng kali Lo nikah, Jadi enggak ada yang gangguin gue lagi,” ujar Novela sambil terus berjalan.

“Sebenci itu kah Lo sama gue Nov?” lirih Khafi dalam hatinya. Ia menghentikan langkahnya, dan hanya terdiam memandangi punggung Novela yang semakin menjauh meninggalkannya.

“Bercanda kali, gitu aja baperan. Ayo, gonceng gue,” ujar Novela berbalik ke arah Khafi sambil tersenyum.

Khafi membalas senyuman sahabatnya itu. Kemudian Novela segera menaiki sepeda Khafi, Secara perlahan Khafi mulai mengayuh sepedanya.

Ketika melewati jembatan, Novela secara tiba-tiba memeluk Khafi dari belakang.