Sepasang Netra dalam Sangkar
Karya: Hikmah Tul Aulia
Cahaya keemasan mulai terlihat di sepanjang garis melintang, seakan baru saja bebas dari kurungan sang gulita.
Pertanda bahwa aku akan dibawa menuju muka untuk menyambut sorak sorai pemirsah, atau sekadar dipamerkan pada tetangga keindahan suara agar sang majikan bergembira.
Disertai dengan dituangkannya biji bijian dan segelas air, aku mulai berkicau sebagai tanda terima kasih untuk pakan hari ini. Elusan kuterima di pucuk kepala mungkin sebagai ucapan ‘sama sama’ dari Dea.
Selesai memberi ku makanan, Ia pun masuk ke dalam rumah dengan mengandalkan indera peraba, ciri khas tuna netra.
Matahari tepat di atas kepala sang pejalan kaki yang melintas di seberang rumah.
Tak lama terlihat Dea, gadis belia yang kehilangan fungsi mata akibat takdir sang kuasa. Dari balik pintu, keluar menuju gazebo buatan Abo, ayah Dea. Duduk berselonjor kaki ditemani sulaman rapi yang baru setengah jadi, indah sekali.
Semilir angin menerpa, mampu menggerakkan beberapa helai rambut yang mengenai wajah gadis itu, jari jari lentik yang bergerak lincah merajut sehelai demi helai benang hingga mulai berbentuk.
Penglihatan yang telah di ambil Tuhan ternyata tak membuatnya terpuruk menyalahkan takdir, namun dari tatapan kosong itu bisa dilihat masih ada sejuta harap bagi waktu mendatang.
“Lihatlah gadis buta itu, sungguh malang nasibnya,” ucap seorang wanita paruh baya yang melintas di jalan depan rumah.
“Benar, di usia yang masih muda sudah kehilangan penglihatannya, sangat disayangkan dengan wajah seayu itu,” balas wanita yang lain.
Hey, apa apaan para wanita itu. Aku sangat yakin dengan suara sebesar itu mereka sengaja memperdengarkannya kepada Dea, Karena kesal aku berusaha menyoraki mereka walau tak berarti apapun, karena yang mereka dengar pasti hanyalah kicauan burung perkutut yang nyaring, menyebalkan sekali. Kulihat Dea hanya tersenyum sembari melanjutkan kegiatan menyulamnya.
“Hey Bung, apakah kau bosan di dalam sana?” tanya Dea yang rupanya sudah berdiri di depanku sambil mengetukkan jarinya ke jeruji sangkar.
“Bagaimana hari ini? Apa alam masih seindah kemarin? Apa langit secerah yang aku duga? karena rasanya hari ini suhunya lumayan hangat ya,” lanjutnya disertai senyum merekah.
Oh Tuhan ingin sekali rasanya aku berteriak, kasihan sekali dia. Lihatlah ukiran indah, garis melengkung di wajah itu yang bahkan sang empu tak tahu. Lihatlah bola mata berbinar walau ragu akan sinar. Lihatlah raut semringah akan hari cerah walau tak tertangkap oleh netra.
“Bung, katanya di dunia ini ada hal yang disuka namun bukan punya kita, ada hal yang dipinta namun bukan untuk kita, tetapi ada juga hal yang tak disangka namun sangat berjasa. Tuhan itu adil, bisa aja saat ini Tuhan gak kasih apa yang kamu mau, tapi Tuhan kasih apa yang kamu butuh,” ucapnya lugas disertai senyuman dengan tatapan kosong kedepan.
