Sepasang Netra dalam Sangkar
Tak lama suara decitan nyaring sebuah benda yang saling beradu terdengar disertai cahaya menyilaukan menyorot ke arah kami.
Guncangan dahsyat kurasakan setelahnya, sangkar ku yang tadinya tergantung dengan baik di dinding rumah terpental entah kemana. Kukerjapkan mataku, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Suara teriakan panik orang-orang serentak menerobos pendengaran ku.
Dea..
Kulihat Dea terkapar tak berdaya dengan cairan merah pekat di sekujur tubuhnya.
Orang-orang berdatangan mengerumuni, beberapa terlihat sibuk mengotak atik handphone guna menghubungi petugas medis, ada pula yang sibuk menyodorkan kamera handphone merekam peristiwa nahas yang barusan terjadi.
“Dea, Dea, apa yang telah terjadi pada anakku!” dari kejauhan ayah Dea melerai kerumunan, berteriak kebingungan atas peristiwa yang dialami putrinya. Tubuhnya bergetar memeluk tubuh sang anak yang berlumuran darah.
Tak lama suara sirine ambulan sontak mengintrupsi massa untuk memberikan ruang agar Dea segera dibawa menuju rumah sakit.
Kulihat bus tronton telah terjerembab menabrak tiang rumah yang kini telah roboh. Tak lama seseorang mengangkat sangkar ku yang sebagian telah penyok.
“Sepertinya burung ini adalah peliharaan si gadis malang itu,” ucapnya prihatin.
“Kudengar tadi katanya supir bus tronton membanting stirnya demi menghindari pemotor yang hampir ia tabrak, nahasnya malah menyosor rumah yang terdapat gadis itu,” jelas pria paruh baya kepada orang-orang di sana.
Tuhan, apa lagi ini. Fungsi netra tak kauberi, estungkara selalu ia sertai, masih tak cukup Kauhadiahi lara, alih-alih harsa.
Tetes demi tetes gemercik hujan membasahi bumi yang kusinggahi, pekat darah memudar seiring jatuhnya ribuan tetes air membentur tanah. Temaram membasmi cahaya, gemuruh tak luput pada indera.
Tersentak yang kurasa pada kabar duka yang menyerta. Dea si gadis tuna netra rupanya telah menyerah pada asa.
Hikmah Tul Aulia, Siswi SMAN 1 Toboali, aktif menulis cerpen.
