Karya: Khoiriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas, Bangka Selatan, Bangka Belitung

Syarifah namaku. Seorang gadis desa biasa yang tinggal bersama kedua orang tuaku di rumah sederhana berdinding papan kayu.

Cita-citaku adalah menjadi orang kaya, agar aku bisa membelikan ibu dan bapak rumah yang bagus. Ada catnya, ada mobil yang terparkir di halaman rumah, ada berbagai macam jenis bunga yang menghiasinya.

Oke, mungkin mimpiku ini ketinggian. Kalau kata orang, jangan mimpi terlalu tinggi, nanti kalau jatuh akan sakit. Tapi, bukankah bermimpi itu gratis? Tidak merugikan orang lain, selama mimpi itu baik?.

Berbagai hinaan sudah sering kudengar. Iya, untuk ku dan keluarga. Mungkin, karena sebagian tetanggaku sudah punya rumah bagus, ada yang punya mobil dan sawah berhektar-hektar. Sedangkan kami sekeluarga hanya punya rumah kecil, mobil tidak punya apalagi sawah.

Ibuku setiap hari bekerja mencuci pakaian orang desa, sedangkan bapakku bekerja buruh di sawah tetangga. Mungkin, semua uangnya tidak bisa mencukupi kebutuhan yang diperlukan, namun ibuku sangat pintar mengatur keuangan, jadi setidaknya setiap hari kami tidak pernah kelaparan, walaupun pernah makan nasi menggunakan garam saja.

Baca Juga  Literasi Membangun Negeri, Debby Berdecak Kagum dengan Karya Anak Basel

“Syarifah, ora golek kerjo to? (Syarifah, enggak cari kerja ya?),” tanya Bu Susi, tetangga samping rumahku.

Saat ini, aku sedang memilih sayuran di tukang sayur yang setiap pagi berjualan. “Malah udah interview kok. Cuma belum ada konfirmasi keterima atau enggaknya,” ujarku tersenyum.

“Palingan enggak keterima. Anakku yang sarjana aja susah cari kerja, apalagi kamu, cuma lulusan SMA,” cibir Bu Henny sambil mengambil kentang. “Setengah kilo aja bang,” lanjutnya.

“Rezeki, maut dan jodoh sudah diatur sama Allah Bu. Insyaa Allah kalau Allah meridoi, saya pasti punya pekerjaan,” ujarku masih mempertahankan senyuman.

Padahal dalam hati rasanya pengen menjambak rambut Bu Henny yang kribo itu. “Sak karepmu wae lah. Aku tak balek arep masak kanggo bojoku. (Seterah kamu aja. Aku mau pulang, masak untuk suamiku),” kata Bu Susi, kemudian membayar sayurannya kepada Pak Harto si tukang sayur. “Iya Bu.”

Baca Juga  Aku Mau Memaku Kupu-kupu

“Ini pak, uangnya. Terima kasih ya. Mari Bu Henny, saya duluan,” uacapku yang hanya membeli kangkung dan tempe.

“Pak, saya utang dulu ya, besok saya bayar,” tutur Bu Henny, kemudian lari meninggalkan pak Harto.

“Eh, eh Bu Henny! Jangan utang terus to! Bangkrut saya nanti,” ketus Pak Harto dengan nada kesal.

Aku hanya menggelengkan kepala. Aku memasuki rumah yang sederhana. Terlihat di dapur ada ibu yang sedang duduk menungguku. “Ini sayurannya bu,” ungkapku sambil meletakkan plastik berisi sayuran di meja.

“Ya udah, kamu masak ya.., Ibu mau lanjut nyuci. Terus habis itu, kamu antar masakannya buat Bapak. Kasihan tadi belum sempat sarapan,” kata ibu, sembari berdiri keluar rumah, menuju tempat menyuci yang memang terletak di luar rumah.

Baca Juga  Gagal Move On

“Iya Bu”.. Aku pun mulai fokus pada masakan ku. Hari ini, aku akan menumis kangkung, lalu tempenya akan kugoreng. Ya sangat sederhana, namun itu sudah cukup bagi kami. Setelah selesai memasak, aku pamit kepada ibu untuk mengantarkan rantang yang berisi makanan untuk bapak yang sedang bekerja di sawah orang.

Setelah diberi izin, aku menaiki sepedaku berwarna ungu. Rantang tadi, aku letakkan di depan keranjang sepeda. Perlahan-lahan, aku mulai mengayuh sepedaku.

Aku memejamkan mata ku sejenak, kemudian membukanya. Merasakan kesejukan saat melewati hamparan sawah yang menghijau. Sangat indah dipandang mata. “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dusta kan?”