Impian Syarifah
Setelah hampir setengah jam, akhirnya aku sampai di tempat bapakku bekerja. Terlihat, bukan hanya bapakku saja, namun ada beberapa tetanggaku yang ikut buruh di sana.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Pak. Ini, Syarifah udah masak buat Bapak,” ungkapku sembari meletakkan rantangnya di pondok biasanya untuk istirahat dan salat.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, iya ndok. Makasih,” jawab bapakku dengan tersenyum manis melihatku kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Aku pulang ya Pak, mau bantu Ibu,” pamitku sambil menaiki sepeda. “Iyo, ati-ati (iya, hati-hati),” jawab bapak.
Setelah berpamitan, tak lupa mengucapkan salam. Aku pun mulai mengayuh sepedaku.
Tiba di rumah, aku membantu ibu untuk mencuci pakaian. Ada sebagian yang sudah kering, aku mulai menyetrikanya. Setelah selesai, akupun mengantarkan kepada pemilik baju tersebut.
“Fyuff, capek juga ya ternyata,” gumamku sambil duduk di lantai yang beralas tikar anyaman rotan. “Semua pekerjaan itu capek Sya!” tutur ibuku, terlihat ia sedang menjahit celana bapak yang robek.
“Bu, Syarifah nanti enggak mau kerja yang capek. Syarifah maunya, tinggal nyuruh karyawan aja. Terus terima beres deh,” kataku tersenyum membayangkan jika aku menjadi bos.
“Kalau enggak mau capek, ya jangan kerja. Tidur aja sana. Tidur aja bikin badan pegel,” ucap ibu.
“Ibu mah gitu. Eh Bu, Syarifah tuh kesel banget sama Bu Henny. Masa tadi pagi, dia kayak menyepelekan Syarifah,” aduku dengan muka kesal.
“Yang sabar aja. Kalau kamu direndahkan, kamu harusnya jangan sedih. Justru itu menjadi penyemangat kamu untuk terus bangkit mencapai impian kamu,” nasihat ibu seraya melirikku dengan senyuman manisnya.
Keterima Kerja!
Aku melirik telepon. Ternyata ada nontifikasi WhatsApp dari seseorang yang katanya menyuruhku besok untuk mulai bekerja di perusahaannya.
“Alhamdulillah ya Allah! Ibu, Syarifah keterima kerja! Besok insyaaAllah akan kerja,” ungkap ku berdiri sambil berteriak.
“Alhamdulillah, semoga berkah dan berjalan dengan lancar ya ndok,” ucap ibu, ia berhenti menjahit sembari beralih memelukku sambil meneteskan air matanya.
“Kamu buktikan Ndok, bahwa orang miskin kayak kita bisa sukses! Agar kamu enggak direndahkan lagi sama orang desa,” lanjut ibuku sambil mengelus kepalaku yang tertutup hijab.
“Insyaa Allah Bu. Pasti! Syarifah akan buktikan bahwa Syarifah bisa sukses dan bangun rumah buat ibu dan bapak,” jawabku spontan membalas pelukan ibu dengan erat.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akan kubuktikan kepada mereka semua, bahwa aku bisa sukses,” ucapku dalam hati. (***).

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.