Karya: Khoiriah Apriza, siswi Kelas XI SMAN 1 Airgegas

Namanya Nabila, perempuan yang terlahir berbeda dengan manusia pada umumnya. Namun, perbedaan itu tidak membuatnya menjadi takut untuk menghadapi dunia.

Nabila terlahir cacat pada kakinya yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan. Sehari-hari, ia berjalan menggunakan kursi roda di bantu oleh kakak laki-lakinya, Ilyas.

Mereka berdua tinggal di panti asuhan sejak kecil. Ummi Zahra, pengasuh mereka menemukan keduanya di semak belukar. Ada Ilyas kecil baru berusia sekitar dua tahun yang menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya. Di sampingnya ada bayi perempuan yang dibedong selimut dengan wajah yang pucat.

“Ciee hari ini yang umurnya udah enam tahun,” ujar Ilyas yang mengagetkan Nabila saat sedang duduk di kursi roda menghadap hamparan taman bunga.

“Ihh Abang ngagetin Nabila,” ujar Nabila dengan kesal.

“Hehe maaf ya. Nih, Abang bawa sesuatu buat kamu,” ujar Ilyas sambil menyerahkan kotak biru kepada Nabila.

“Pasti ini kado ya buat Nabila?” tanya Nabila dengan girang.

“Di buka ya cantik,” ujar Ilyas sambil tersenyum.

“Masya Allah, pashmina putih. Wah ada jahitan nama Nabila di hijab nya. Makasih Abang,” ujar Nabila kemudian mengangkat kedua tangannya seolah ingin memeluk Ilyas. Ilyas yang tau pun, segera memeluk adik nya dengan sayang.

“Abang yang jahit semalem. Maaf ya kalau kurang rapi. Sini biar Abang pakaikan,” Ilyas memakai kan pashmina tersebut di kepala Nabila. Terlihat sangat cantik kala hijab tersebut telah terpasang di kepala menutupi rambut Nabila.

Baca Juga  Serlina Nek Terbeng (selesai)

“Masya Allah, cantiknya adik Abang,” puji Ilyas.

“Cantik dong, Nabila kan perempuan. Hehe,” kekeh Nabila.

“Hehe, Jangan di lepas hijabnya ya dek. Karena, hijab itu untuk menutupi aurat adek. Adek itu, bagaikan ratu yang harus dijaga dan dilindungi. Seorang ratu, hanya orang tertentu yang bisa melihat dan bertemu dengannya,” ujar Ilyas.

“Siap bos!! Nabila janji, mulai sekarang akan menutup aurat. Biar Abang dan ayah bisa terhindar dari api neraka,” ujar Nabila bergaya seolah sedang hormat kepada Ilyas. Lalu mereka tertawa bersama.

Tawa di balik kesedihan. Itulah kata yang mewakili mereka berdua. Semoga suatu saat nanti, Allah bisa membuat tawa itu menjadi tawa yang sebenarnya, tulus dari hati tanpa ada kepalsuan di baliknya.

Tiba-tiba, saat mereka berdua sedang tertawa bersama. Tanah seolah bergetar hebat. Burung-burung terbang seolah sedang terjadi sesuatu. Terlihat juga, rumah panti asuhan bergerak seakan mau runtuh.

“Nabila, Ilyas, ayo pergi sekarang. Ada gempa nak!” ujar Ummi Zahra yang lari tergopoh-gopoh menuju mereka berdua.

“Gempa itu apa ummi?” tanya Nabila dengan polosnya.

“Nanti ummi jelas kan. Sekarang, kita selamatkan diri dulu ya. Nabila biar ummi gendong, Ilyas lari duluan ya,” perintah Zahra, kemudian ia menggendong Nabila dan berlari dari taman diikuti oleh Ilyas.

Baca Juga  Jangan Lupa Bersyukur

Takbir tak henti terdengar. Tangisan pun terus menerus terdengar. Bumi bergetar dengan hebatnya. Seolah menunjukkan kepada manusia, bahwa dunia hanyalah sementara.

“Aduhh,” Ilyas terjatuh terkena reruntuhan bangunan. Lututnya nampak mengeluarkan darah. Ilyas meringis sambil menahan tangisan.

“Abang!” teriak Nabila saat menoleh ke belakang melihat Ilyas terjatuh.

“Astaghfirullah Al azim. Ilyas, kamu bisa berdiri kan nak?” tanya Zahra khawatir. Ia menurunkan Zahra di tanah, kemudian membantu Ilyas untuk berdiri, namun Ilyas malah kembali terjatuh.

“Ummi, Kaki Ilyas sakit. Enggak bisa berdiri,” ujar Ilyas sembari menahan tangisnya.

“Biar Ummi gendong ya,” Zahra menggendong Nabila di kanannya, sedang kan di kirinya ia berusaha menggendong Ilyas. Akhirnya walaupun Zahra nampak kesulitan ia bisa berdiri kemudian secara perlahan mulai berlari. Namun, Bumi kembali terguncang hebat. Bahkan guncangannya lebih hebat dari pada sebelumnya. Terlihat jalanan aspal yang retak, terlihat juga para pengendara motor berlari meninggalkan motornya. Gedung-gedung tinggi, rumah para warga di samping panti asuhan mulai roboh dan puing-puing bangunannya meruntuhi jalanan membuat manusia menjadi kalang kabut tak karuan.

Zahra terus berlari mengejar para rombongan anak panti yang sudah dijaga oleh Aisha, Adiknya. Karena tak hati-hati, Kaki Zahra tersandung reruntuhan bangunan, yang menyebabkan mereka bertiga jatuh tersungkur. Nabila terpelanting menyebabkan kepalanya terkena puing bangunan. Hijab pashmina putihnya, kini ternoda oleh darah yang keluar dari kepalanya.

Baca Juga  Contoh Soal Ulangan Harian Sistem Ekskresi

Sedang kan Ilyas terjatuh tak jauh dari tempat Nabila, kakinya kembali terluka parah akibat terkena goresan besi, lengannya pun tergores aspal. Sedangkan Zahra, kepalanya terkena aspal dan lengannya pun ikut tergores.

“Astaghfirullahal adzim,” ucap Zahra, ia kemudian berjalan pelan menghampiri Nabila.

“Hiks Abang, Ummi, kaki Nabila sakit. Kepala Nabila juga sakit. Hiks,” Nabila terus menangis. Ia berusaha untuk berdiri, namun kakinya yang lumpuh membuatnya kembali terjatuh.

“Sabar ya dek. Ada Allah yang menjaga kita. Jangan menangis ya cantik,” ujar Ilyas menenangkan adiknya. Ia berusaha untuk berjalan menghampiri mereka, namun kakinya juga sulit untuk berdiri.

Pagi itu, gempa tak kunjung berhenti. Langit semakin menghitam di susul hujan yang mengguyur bumi. Tanah bergetar kembali dengan disusul teriakan seseorang yang membuat manusia kala itu semakin panik.

“Ada Tsunami! Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!” teriaknya.

Terlihat air laut yang menggulung-gulung tinggi. Tinggal menghitung detik, air tersebut melahap mereka semua. Zahra yang melihat gelombang air dari kejauhan, segera menggendong Nabila dan menghampiri Ilyas lalu berusaha untuk menggendong nya juga. Namun, saat berdiri Zahra nampak kesulitan karena tenaganya sudah terkuras habis.

“Ya Allah, Bantu kami ya Allah. Allahuakbar!” teriak Zahra menangis dan berusaha untuk berdiri.