Pelangi setelah Hujan
“Ummi, Tinggalkan Ilyas di sini. Ummi dan Nabila lari ya. Di sini, ada Allah yang menjaga Ilyas,” ujar Ilyas sambil menghapus air mata Zahra dan kembali basah karena guyuran air hujan. “Jaga adek ya ummi,” lanjutnya.
“Jangan menyerah Ilyas. Ayo kita pasti bisa,” ujar Zahra masih berusaha untuk berdiri. Jika saja, Ilyas masih berumur tiga atau empat tahun, Zahra tidak kesulitan menggendongnya. Namun, kini Ilyas berusia delapan tahun dan Nabila yang baru berusia enam tahun. Menggendong mereka berdua, Zahra yang sudah paruh baya sudah kesulitan. Meminta tolong pun, manusia kini sibuk menyelamatkan diri sendiri.
“Abang, maafin Nabila ya belum bisa jadi adek yang baik buat Abang,” ujar Nabila dengan lemah.
“Ummi dan Nabila selamat lebih penting sekarang. Cepat ummi lari, air nya sebentar lagi akan sampai disini. Ada Allah yang menjaga Ilyas di sini,” ujar Ilyas meyakinkan.
“Maafin ummi Ilyas,” ujar Zahra kemudian berlari meninggalkan Ilyas yang masih duduk di atas aspal.
“Abang!!!” teriak Nabila dengan tangannya berusaha untuk meraih Ilyas.
Terlihat Zahra dan Nabila sudah berlari menjauh. Air kini semakin mendekati Ilyas kala itu. Dan benar saja, Air tersebut berhasil menghantam Ilyas. Puing-puing bangunan pun ikut terseret. Berkali-kali kepala Ilyas terbentur bangunan, motor dan pepohonan. Tangan Ilyas berusaha untuk meraih udara. Namun, karena hidung dan mulutnya yang sudah kemasukan air, perlahan-lahan Ilyas melemas karena kekurangan pasokan oksigen, matanya menutup secara perlahan.
***
15 Tahun kemudian.
Terlihat seorang laki-laki berpakaian rapi sedang duduk di kursi CEO menghadap jendela. Ia nampak melamun dengan kedua matanya yang memerah.
“Selamat pagi Tuan. Segala keperluan yang diperlukan untuk dibagikan kepada anak panti asuhan sudah siap,” ujar seorang laki-laki berpakaian hitam.
“Kita berangkat sekarang,” kata lelaki yang di panggil tuan tersebut.
*
Setelah beberapa jam, Akhirnya mereka telah sampai di bangunan panti asuhan Al-Ikhlas. Laki-laki berpawakan tinggi dan berotot keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang mobil. Terlihat seorang laki-laki tampan keluar dari dalamnya.
laki-laki tersebut berjalan lebih dulu dan diikuti oleh orang-orang berseragam hitam-hitam yang membawa kardus berisi makanan, baju dan peralatan sekolah.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,” salam laki-laki tersebut.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Maaf, ada apa ya?” Terlihat seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu.
“Bisa bicara di dalam? Biar saya jelaskan,” ujar laki-laki tersebut, Dibalas anggukan perempuan paruh baya itu.
“Kedatangan saya di sini, untuk membagikan sedikit rezeki kepada para anak-anak yatim-piatu,” ujar laki-laki tersebut.
“Masya Allah, Terima kasih banyak Nak. Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu,” ujar paruh baya tersebut.
“Aamiin. Ibu siapa nama nya?” tanya laki-laki tersebut.
“Panggil aja, Bu Ani. Kamu nak?”
“Saya Ilyas Bu,” jawab laki-laki tersebut sambil tersenyum.
Prang!!
Terdengar pecahan gelas. Ilyas segera mengalihkan pandangannya ke arah seorang perempuan berhijab pashmina putih yang sedang duduk di kursi roda. Mata perempuan tersebut nampak berkaca-kaca. Perlahan-lahan, Ilyas mendekati perempuan tersebut. Mata perempuan tersebut perlahan mengeluarkan air mata.
Ilyas terduduk di hadapan perempuan tersebut. Matanya memerah menahan tangisan. Entah mengapa, melihat wajah perempuan di depannya ini mengingatkan ia pada adiknya, Nabila.
Sejak kejadian gempa dan tsunami 15 tahun yang lalu. Ilyas selamat, walaupun ia sempat koma selama dua minggu. Ia di selamatkan oleh seorang dokter, kemudian ia diangkat menjadi anaknya. Sekarang, ia menjadi seorang pengusaha sukses. Selama ini, Ilyas berusaha mencari adik nya. Namun, karena tak punya foto sama sekali, membuat ia kesulitan mencarinya.
“Abang Ilyas?”
“Nabila?”
Tanpa sadar, mereka berdua berucap secara bersamaan. Air mata keduanya membasahi pipi. Keduanya segera berpelukan. Mereka menangis tersedu-sedu. Ilyas melepaskan pelukannya. Nabila meraih ujung hijabnya, kemudian menunjukkan sesuatu di balik hijab tersebut. Terlihat jahitan nama Nabila di sana.
“Benar, ini adik ku Nabila yang sudah lama kucari. Adik yang terpisah dari ku sejak kejadian gempa dan tsunami waktu itu. Allahuakbar! Alhamdulillah ya Allah,” ujar Ilyas kembali menangis sambil memeluk adik nya dengan sayang.
“Terima kasih Allah sudah mengabulkan doa-doa ku,” ujar Ilyas masih dengan memeluk adiknya erat.
Ini lah akhir dari kisah kakak beradik, Ilyas dan Nabila. Setelah Allah pisahkan mereka selama 15 tahun, Allah dengan mudah pertemukan mereka kembali. Ilyas percaya akan ada kebahagiaan setelah penderitaan. Seperti ia percaya, bahwa ada pelangi setelah hujan. Dan kini, ia telah bertemu dengan pelanginya, Nabila.
TAMAT

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.