Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Mademoiselle Belleza, seorang wanita bangsawan terhormat, sang ratu di mata semua pria.

Parasnya yang cantik nan anggun, proporsi tubuhnya yang sempurna, kecerdasannya yang mengagumkan, serta hartanya yang melimpah ruah, dia menjadikan dirinya mimpi bagi semua gadis yang hidup di muka bumi ini.

Dia selalu pergi dengan kipas dan payung kuningnya.

Rambut pirang emas bergelombang membuatnya terlihat semakin menawan. Dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.

Setiap dia berpapasan dengan pria, pria itu akan langsung mencium tangannya. Pria sesama keturunan bangsawan atau yang kaya raya akan memberikannya hadiah-hadiah istimewa yang tentunya memiliki harga yang fantastis. Hadiah itu bermacam-macam dan Mademoiselle Belleza tak ragu menerimanya dengan perasaan berbunga-bunga.

Pria yang memiliki bakat akan tampil di hadapan Mademoiselle Belleza hanya sekadar mendapat perhatiannya.

Setiap Mademoiselle Belleza berjalan, akan selalu ada alunan musik ataupun bacaan puisi yang menyertainya. Mademoiselle Belleza akan berlenggok bangga saat itu terjadi.

Seolah dialah Sang Ratu yang akan menguasai setiap pria yang ditemuinya. Beberapa wanita melihatnya sebagai ancaman nyata.

Meskipun kini berlimpahkan harta, Mademoiselle Belleza tidak lahir di keluarga kaya raya yang bahagia.

Baca Juga  Penyesalan sang Lelaki

Justru kebalikannya, keluarganya tersendat ekonomi dan dipenuhi konflik.

Sang ayah hanyalah tukang kayu pemarah yang jarang pulang ke rumah. Dia hanya akan mencari masalah jika pulang.

Sang ibu juga tidak ada bedanya. Ibunya hanya mengurus rumah tangga, lalu suaminya tidak pernah ada untuknya dan kasar terhadapnya, lalu kondisi keuangan yang menghimpitnya.

Dia sama sekali bukan ibu yang baik bagi Belleza kecil.

Belleza berparas cantik dan cerdas, bahkan bisa dibilang licik. Dia memakai pesonanya untuk mencari pria yang bisa mengembalikan kondisi kehidupannya.

Seorang pria keturunan bangsawan jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Tak lama kemudian, pria itu melamarnya.

Sang pria mengajaknya pergi jauh dari rumah nerakanya, pergi ke rumah besar nan megah di Paris.

Belleza muda merasa sangat bahagia, dia akhirnya terbebas dari jeratan kehidupan yang menyedihkan.

Sejak menikah dengan sang pria bangsawan, Belleza hingga saat ini menyandang gelar bangsawan dan dikenal dengan namanya, Madame Belleza.

Namun, baru menikah selama tiga tahun, suaminya meninggal akibat kecelakaan. Kematian suaminya membuatnya terluka, namun di sisi lain ia juga melihatnya sebagai kesempatan.

Baca Juga  Ayah, Aku Rindu

Harta kekayaan suaminya menjadi miliknya karena Madame Belleza belum memberinya anak. Hingga saat ini, dirinya menjadi sosok wanita bangsawan terhormat yang dicintai banyak pria.

Dikarenakan sudah tidak lagi menyandang status wanita menikah, kini dia adalah Mademoiselle Belleza.

Suatu hari, Mademoiselle Belleza sedang berpiknik di sebuah taman ditemani dua orang pria yang sedang menggodanya.

Seorang pria sedang memainkan seruling di sampingnya sambil sesekali menggodanya dengan melirik nakal.

Pria lainnya sedang berlutut sembari memegangi tangan Mademoiselle Belleza.

ia mengucapkan kata-kata manis yang membuat Mademoiselle Belleza beberapa kali tersipu sembari memakan kue mangkuk di tangannya. Sang pria yang memegangi tangannya mencoba merayunya.

“Belleza cantikku, bahkan kata-kata tidak bisa menggambarkan betapa aku mengagumimu. Setiap mataku bertemu dengan matamu, hatiku selalu berdebar kencang.

Aku hanya bisa berharap kita bisa bersama selamanya. Aku akan membuatmu bahagia.”

Sang Musikus masih tetap memainkan serulingnya, akan tetapi tatapannya pada pria berduit di hadapannya adalah tatapan kesal.

Jika ia memiliki kasta yang lebih tinggi, mungkin Mademoiselle Belleza akan lebih memperhatikannya.

“Aku masih lebih baik darinya,” ujar Sang Musikus dalam hati.

Baca Juga  Materi larutan Benzena-Toluena, Ini Contoh penerapan Penurunan Tekanan Uap Pelarut

Mademoiselle Belleza menatapnya sebentar, sebelum menempatkan satu tangannya yang bebas di atas tangan sang pria, “Oh, Francis.

Kau sungguh menyentuh hatiku. Tetapi, untuk bisa bersamaku adalah permintaan yang terlalu jauh kurasa. Aku ingin berkelana bebas, mencari lebih banyak kebahagiaan yang abadi, dan aku membutuhkan pria yang bisa memenuhinya.”

Mendengar kebahagiaan abadi, Tuan Francis paham yang dimaksudnya. Tuan Francis izin pamit sekejap untuk mengambil sesuatu yang ia letakkan tak jauh dari tempat mereka duduk.

Mademoiselle Belleza menoleh ke arah musikus.

“Mainkan lebih keras, Alfonso,” katanya lembut.

Alfonso memainkannya serulingnya lebih keras. Alunan melodi yang indah mulai terdengar di mana-mana.

Alfonso gembira karena Mademoiselle mulai memperhatikan dan semakin menyukai musik yang ia sajikan. Tak lama, Tuan Francis datang padanya membawa sekotak besar hadiah.

Mademoiselle Belleza terkesiap gembira, seketika bersemangat untuk mengetahui isi hadiahnya.

“Oh, Francis! Kau baik sekali memberiku hadiah. Aku yakin ini akan sangat indah.”

“Aku akan melakukan apa saja untukmu, Belleza sayang.”

Mademoiselle Belleza membuka kotak hadiah merah jambu di pangkuannya. Sesaat dia membukanya, senyumnya memudar.