Itu bukanlah hadiah yang dia harapkan. Dia mendapatkan sebuah boneka yang terbuat dari kayu. Memori pahitnya berasal dari kayu dan melihat hadiah itu, dia merasa Tuan Francis sedang mengejeknya.

Mademoiselle Belleza sempat terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lalu rasa tidak percaya itu berubah menjadi amarah yang sampai ke ubun-ubunnya.

Belleza menatap Tuan Francis dengan tatapan tajam seolah ingin menerkamnya.

“Belleza sayang, ada apa? Apa kau tidak menyukainya?” tanya Tuan Francis yang kebingungan.

Belleza bangkit dari duduknya dan langsung melempar hadiah itu dengan keras sampai mengenai kepala Francis.

Alfonso yang menyaksikannya, menertawakan Francis dari dalam hati.

Dia mengubah melodi yang semula romantis menjadi melodi yang lucu, seolah mengejek Francis. Melodi itu menambah panas kepala Mademoiselle Belleza.

“Kau benar-benar keterlaluan, Francis.” Dia langsung berjalan pergi dengan langkah terburu-buru setelah mengatakan itu.

Meninggalkan kedua pria yang menatapnya, satu penuh dengan keseriusan dan satu tak mau tahu.

Mademoiselle Belleza diam-diam menangis.

Baca Juga  Catatan Literasi Jurnalistik di Penghujung Tahun

*****

Mademoiselle Belleza langsung membanting pintu begitu memasuki kediamannya.

Mengabaikan banyak orang yang menatapnya dengan tatapan keheranan di luar sana. Wanita yang berada di usia 31 tersebut menghela napas berulang kali.

Nampaknya ia mengalami hiperventilasi saat di perjalanan.

Seorang pelayan wanita senior, yang sebelumnya sempat terkejut mendengar bantingan pintu majikannya, kini berlari ke arahnya dengan ekspresi cemas yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Dari belakang, seorang pelayan gadis mengikutinya dengan ekspresi yang sama.

“Mademoiselle, Anda kembali! Oh, Tuhan, seisi rumah mencari Anda sejak pagi. Dari mana saja Anda, Mademoiselle?”

“Diamlah, Marisa! Aku tidak memerintahkanmu untuk berteriak seperti itu di hadapanku!”

“Mademoiselle, Rupert bahkan keluar mencari Anda hampir satu jam lamanya. Kami bahkan hampir menelpon polisi. Kondisi Mademoiselle belum membaik, tidak seharusnya Anda keluar diam-diam seperti itu!” Pelayan gadis menyahut.

“Sudah kubilang berhentilah–” Tiba-tiba Mademoiselle merasa kebingungan.

Kenapa dia belum membaik?

Pertanyaan itu menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya. Belleza menatap pelayan-pelayannya yang satu-persatu muncul dari beberapa ruangan.

Baca Juga  Sahabat Beda Negara (1)

“Mademoiselle, hamba paham ini berat bagi Anda. Hamba paham ini masih sulit untuk diterima. Mademoiselle istirahat saja, ya. Hamba dan Lisa akan menjagamu.”

Marisa  dan pelayan gadis yang tadi disebutkan bernama Lisa, menarik lengan nona mereka dengan lembut sebelum menyeretnya pelan ke kamarnya.

Pelayan-pelayan lain menatapnya dengan prihatin. Mademoiselle Belleza masih kebingungan, amarahnya seketika mereda.

Baru saja memasuki kamarnya sendiri, Mademoiselle Belleza seketika menangis sesenggukan.

Dia berlutut sembari menangis di hadapan tempat tidur yang dulunya miliknya dan suaminya.

“Anda bukan lagi Madame Belleza, masih ingat kan Mademoiselle?” tanya sang pelayan senior.

Belleza tidak lagi bisa mendengar suaranya. Dia terus menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal yang dulu ditiduri suaminya.

Setengah jam kemudian dia tertidur dengan posisi yang sama. Marisa menatap Lisa yang kini menatapnya dengan sayu.

“Dokter Francis menelpon dan mengatakan Mademoiselle masih tidak berubah,” ujar Lisa.

“Ah, benar dugaanku. Dia yang membawa Mademoiselle kita. Seharusnya dia mengatakannya pada kita terlebih dahulu. Mungkin dia punya rencana lain.”

Baca Juga  Sebuah Keikhlasan

“Bagaimana ini? Mademoiselle masih tidak bisa menerima semuanya. Mademoiselle bisa gila. Kita akan kehilangan pekerjaan.”

Sang pelayan senior hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu Lisa.

Sebenarnya aku tidak tega melakukannya, tapi mungkin sudah saatnya bagi kita untuk berkemas.”

Lisa menundukkan kepalanya. Tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Marisa meninggalkan ruangan, meninggalkan Lisa dan majikannya berdua di kamar. Lisa duduk di samping majikannya dengan hati yang hancur.

Tangannya memegang foto pernikahan Mademoiselle Belleza bersama suaminya. Baginya wanita yang ada di sampingnya akan selalu menjadi Madame Belleza.

Tamat

Catatan Kaki

Mademoiselle adalah gelar kehormatan Prancis, secara tradisional diberikan kepada seorang wanita yang lajang.
Madame adalah gelar kehormatan Prancis, secara tradisional diberikan kepada seorang wanita yang sudah menikah.
Hiperventilasi adalah kondisi medis di mana pernapasan berlangsung dengan sangat cepat.