Karya: Khoiriah Apriza, siswi Kelas XI SMAN 1 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan

Seperti biasanya di Hari Jumat siang, Eca dan Nurul pergi ke masjid Al-falah untuk menghadiri pengajian. Kebetulan, hari ini yang mengisi kajian adalah Ustadz Latif. Ustadz yang terkenal karena pembawaannya yang nyaman dan menyentuh hati ketika mendengarnya.

“Ke pengajian itu niatnya buat cari ilmu, Bonus nya, bisa liat doi,” ujar Ustadz Latif yang membuat para jamaah tertawa, terutama para generasi muda.

“Bener juga ya. Hehe,” kekeh Eca kemudian menutup wajahnya karena salah tingkah ketika matanya melirik pujaan hatinya.

“Idih, Move on kali Mbak. Lagian, ke pengajian bukanya dengerin ustadz ceramah, malah liatin doi,” cibir Nurul, yang duduk di samping Eca.

“Situ iri kan? Udah ah, entar ditegur lagi sama Calon Mertua gue,” ujar Eca sambil membenarkan hijabnya.

“Ya kali gue iri. Makin jadi nih anak halunya, Mana bilang calon mertua segala,” ejek Nurul sambil memutar bola matanya malas.

“Syutttttt, Jangan berisik,” tegur Bu Saroh, Ibu dari Zain Akbar. Lelaki yang di kagumi oleh Eca.

“Tuh kan, ditegur Calon Mertua,” bisik Eca pelan.

***

Marcha Ayudia, Biasa dipanggil Eca. Gadis cantik dengan lesung pipi di kiri wajahnya. Menggunakan gamis berwarna biru laut yang hampir senada dengan warna hijabnya.

Baca Juga  Menanti Kembali

Kebiasaan nya di Hari Jumat adalah datang ke pengajian bersama sahabatnya, Nurul. Eca, yang dulunya adalah gadis yang bar-bar, suka berbicara kasar, tidak memakai hijab dan selalu meninggalkan sholatnya, kini mulai berubah semenjak bertemu dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah salah satu jamaah di masjid yang biasa diadakan pengajian. Bisa dibilang, pandangan pertama Eca langsung jatuh cinta.

Namun, karena ia mengagumi sosok Haidar yaitu orang yang sholeh, mau tak mau Eca merubah tampilannya menjadi perempuan yang menutup auratnya. Walaupun tak jarang, ia masih suka berkata kasar.

“Gimana ya caranya menyatakan perasaan gue sama Mas Haidar?” tanya Eca kepada Nurul yang sibuk ngetik di laptopnya.

Kini mereka sedang berada di rumah Nurul untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.

“Mana gue tau. Lagian, kalau Lo ajak Mas Haidar pacaran, gue yakin Lo bakalan ditolak mentah-mentah,” jawab Nurul yang tak mengalihkan pandangannya dari laptop.

Eca yang sedang rebahan di kasur empuk Nurul pun segera bangun. “Kalau dilamar langsung gimana menurut Lo?” tanya Eca yang berhasil menarik perhatian Nurul.

“Gila Lo! Mana ada cewek lamar duluan,” jawab Nurul dengan kesal.

“Habisnya gue bingung. Gue tuh pengen Mas Haidar jadi milik gue. Salah siapa jadi orang gantengnya kebangetan,” ujar Eca dengan cemberut kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur.

Baca Juga  Renjana Rumahku

“Jangan terlalu berharap sama manusia kalau tau endingnya Lo bakalan kecewa. Lagian, belum tentu Lo jodoh sama Mas Haidar,” ucap Nurul yang kembali melanjutkan mengetik.

“Terus gue harus gimana? Gue udah rela pakai duit tabungan gue buat beli gamis, beli hijab, kaos kaki, buku-buku Islam dan banyak lagi buat merubah diri gue biar jadi solehah. Siapa tau kan, dia tertarik sama gue. Tapi tetap aja, dia enggak mau sedikit pun melirik gue. Walaupun gue sapa dia duluan,” ujar Eca dengan kesal.

“Niat Lo yang perlu diubah. Masa Lo mau berubah karena manusia. Coba deh, Lo belajar niat yang ikhlas saat menggunakan hijab, belajar mengaji dan sebagainya. Di jamin, Lo bakalan mendapatkan kebahagiaan Islam yang sesungguhnya. Saat ini, di pikiran Lo cuma ada cinta manusia mulu,” jelas Nurul.

“Iya deh. Makasih udah bantu ingetin. Tapi, besok temenin gue ya ke pengajian kayak biasanya,” kata Eca.

“Iya. Tapi niatnya diganti. Jangan karena Mas Haidar, Tapi karena Allah,” kata Nurul menasihati.

“In syaa Allah kalau enggak goyah hati gue. Hehe,” angguk Eca.

***

Eca dan Nurul telah tiba di masjid Al-Falah. Saat ini mereka sedang duduk di tempat mereka biasa mendengarkan pengajian. Namun, setelah beberapa jam kemudian, Eca tak juga melihat Haidar, lelaki yang ia kagumi. Hingga selesai kajian, Haidar tak kunjung datang. Eca ingin bertanya dengan ibu Haidar, namun Nurul mencegahnya.

Baca Juga  Pengilen

“Mencintai boleh, tapi jangan sampai Lo diperbudak cinta. Ngerti kan? Jangan sampai, karena cinta Lo jadi lupa sama akhlak,” peringat Nurul yang dibalas anggukan lemah dari Eca.

Hari-hari berikutnya, masih sama. Haidar tak kunjung hadir di acara pengajian setiap Jumat.

“Ihh kesel banget deh!” teriak Eca kesal sambil memakai helmnya.

“Lo kenapa sih?” tanya Nurul heran, ia segera memakai helmnya dan mengeluarkan motor dari parkiran.

“Gue bete banget. Ya kali udah satu bulan gue enggak ketemu sama pujaan hati gue. Dia kemana sih?” jawab Eca kesal. Setelah Nurul berhasil mengeluarkan motor dari parkiran, Eva segera naik.

“Mas Haidar?” tanya Nurul, ia segera menjalankan motornya keluar dari halaman masjid.

“Iya lah, siapa lagi. Dia kemana ya? Rindu banget gue sama dia,” jawab Eca dengan lesu.

“Nikah kali di luar kota,” ujar Nurul asal dibalas pukulan ringan di pundaknya. “Sakit Caa,” keluh Nurul.

“Habis nya Lo sih, kalau ngomong yang baik-baik dong. Gue udah lemes banget nih,” ujar Eca. Ia memejamkan matanya menikmati angin sore.